Dinasti Politik Rajapaksa di Sri Lanka Terancam Ambruk, Apa Penyebabnya?

Negara pulau tersebut sudah berada di jalur krisis saat itu.
Secara historis, Sri Lanka memiliki finansial yang rentan karena pengeluarannya lebih besar dari pendapatan.
Para kritikus mengatakan kondisi itu semakin parah ketika Gotabaya memberlakukan pemotongan pajak setelah berkuasa, terlebih ketika pandemi COVID-19 menghantam sektor pariwisata yang menjadi andalan Sri Lanka.
Meskipun didesak oleh para pakar dan pemimpin oposisi, pemerintah menolak bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) selama berbulan-bulan, bahkan ketika krisis finansial semakin memburuk dan cadangan devisa semakin berkurang.
Sri Lanka memiliki cadangan sekitar 2,31 miliar dolar AS (Rp33,18 triliun) hingga Februari, sementara mereka harus membayar utang sekitar 4 miliar dolar hingga akhir tahun.
Pemerintah kemudian berubah sikap dan akan mulai berunding dengan IMF bulan ini.
Dalam pidato di televisi pada pertengahan Maret, Gota mengatakan dirinya memahami kesulitan yang dihadapi rakyat Sri Lanka, karena impor terhenti akibat kekurangan devisa dan inflasi meroket.
"Saya amat menyadari adanya kelangkaan bahan pokok dan kenaikan harga-harga," kata dia. "Saya juga menyadari berbagai isu seperti kelangkaan gas, kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik."
Kurang dari setahun sejak mencapai puncak kekuasaan, dinasti politik Rajapaksa di ambang kehancuran, apa penyebabnya?
- Indonesia Raih 2 Gelar Juara di Sri Lanka International Challenge 2025
- Listrik Biarpet, Pak Menteri Salahkan Monyet
- Pilkada 2024 Diwarnai Dinasti Politik yang Meningkat dengan Partisipasi Warga yang Rendah
- Bahas Soal Dinasti Politik, Pramono Anung: Saya dan Dhito Dipaksa Maju
- Pengamat Ini Kritik Keras Fenomena Dinasti Politik di Kaltim: Erat dengan KKN
- Rudi Mas'ud Maju Pilgub Kaltim, Pengamat: Masyarakat Mesti Tolak Politik Dinasti