Dipecat dari Partai Demokrat, Ahmad Yahya Beri Pernyataan Menohok, Ada Kalimat Dinasti dan Oligarki

jpnn.com, JAKARTA - Ahmad Yahya merespon pemecatan atas dirinya bersama enam orang kader lainnya dari Partai Demokrat.
Mantan Ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat itu dipecat bersama dengan Jhoni Allen Marbun, Darmizal, Yus Sudarso, Tri Yulianto, Syofwatillah Mohzaib, dan Marzuki Alie lantaran dinilai melakukan pelanggaran etika Partai Demokrat.
Ahmad Yahya menyebutkan, pemecatan atas tujuh orang kader tersebut merupakan langkah Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono untuk memuluskan dinasti dan oligarki keluarga Cikeas di dalam Partai Demokrat.
"SBY dan AHY melakukan Pemecatan kader senior untuk memuluskan langkah dinasti dan oligarki mereka di partai demokrat," jelas Ahmad Yahya melalui pesan singkatnya, Jumat (26/2).
Kendati demikian, Ahmad menyebutkan kader yang dipecat dari partai berlogo bintang mercy tersebut merasa bangga karena menilai membela kebenaran.
"Melakukan jihad politik mendukung upaya membebaskan partai demokrat dari pengkerdilan melalui pembelokkan cita-cita luhur para pendirinya yaitu dari partai modern dan terbuka menjadi partai ekslusif dinasti yang oligarki," tegasnya.
Ahmad Yahya menyebutkan Kongres Luar Biasa (KLB) dinilai solusi untuk mengembalikan arah perjuangan Partai Demokrat menjadi partai yang modern dan terbuka untuk seluruh warga Indonesia.
"Artinya semua anak bangsa berhak menjadi anggota Partai Demokrat dan semua anggota Partai Demokrat berhak menjadi Ketua Umum," jelasnya.
Mantan Ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat, Ahmad Yahya merespon pemecatan terhadap dirinya dengan menyebutkan ini sebagai langkah SBY dan AHY untuk memuluskan dinastinya di partai.
- AHY Jawab Begini Ditanya Pertemuan Prabowo, SBY, dan Megawati
- Agust Jovan Latuconsina Layak Jadi Wasekjen Demokrat: Energik dan Bertalenta
- Syahrial Nasution, Alumni Unpar yang Dipercaya AHY Jadi Wakil Sekjen Partai Demokrat
- Jadi Kepala Komunikasi Partai Demokrat, Herzaky: Ini Amanah Luar Biasa
- Ditunjuk AHY Jadi Bendum Demokrat, Irwan Fecho Mundur dari Stafsus Mentrans
- Soal Teror ke Tempo, Hinca: Tidak Ada Demokrasi Tanpa Media yang Merdeka