Direktur CISS: Ilmu Intelijen Sangat Penting untuk Mahasiswa

"Dalam waktu dekat kita akan menghadapi Pemilu 2019. Mahasiswa perlu menjadi pionir dalam menciptakan suasana aman dan damai. Tangkal gerakan radikalisme, tangkal hoaks, tangkal politik SARA, dan ciptakan suasana sejuk," terang Simon.
Sementara itu, Ketua Panitia Robith Haris Sauqi mengatakan, satu landasan pemikiran digelarnya Kolokium Radikalisme & Pelatihan Kader Lanjut (PKD) juga berangkat dari sejumlah peristiwa mutakhir di Indonesia.
Salah satunya adalah bom bunuh diri di Surabaya beberapa wakyu lalu. Targetnya adalah gereja dan aparat kepolisian.
Setelah ditelusuri, salah satu pelaku bom bunuh diri merupakan keluarga dari Kabupaten Banyuwangi.
"Bom di Surabaya meyedihkan sekaligus tamparan keras bagi masyarakat Banyuwangi, khususnya bagi para aktivis pergerakan PMII Cabang Banyuwagi. Itulah mengapa isu radikalisme menjadi salah satu perhatian kami dalam kegiatan ini," kata Robith. (jos/jpnn)
Ngasiman Djoyonegoro mengatakan, ilmu intelijen sangat penting bagi mahasiswa untuk mendeteksi gerakan radikalisme.
Redaktur & Reporter : Ragil
- Akademisi: Sebagian WNI di Suriah Layak Mendapat Kesempatan Kedua
- Mendiktisaintek: Pendidikan Ampuh Mencegah Radikalisme dan Terorisme
- BNPT & PNM Kerja Sama Cegah Radikalisme lewat Pemberdayaan Ekonomi
- 4 Ajudan Presiden Prabowo Sosok Mumpuni
- Kepala BNPT: RAN PE Masih Perlu Dilanjutkan
- LPOI dan LPOK Ingatkan untuk Mewaspadai Metamorfosa Gerakan Radikalisme dan Terorisme