Donald Trump Kembali Berkuasa, Para Pemimpin Eropa Tak Gembira

Donald Trump Kembali Berkuasa, Para Pemimpin Eropa Tak Gembira
Presiden AS Terpilih Donald Trump soal TikTok. Foto: ANTARA/REUTERS/Tom Brenner

Tak dapat dipungkiri, rentetan kebijakan baru Trump itu telah memicu beragam reaksi dari para pemimpin dunia, terutama di Eropa.

Negara-negara Eropa, yang telah lama bekerja sama dengan AS dalam banyak aspek, kini menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan hubungan trans-Atlantik yang sudah terbentuk.

Seringkali, kebijakan Trump bertolak belakang dengan kebijakan yang diinginkan oleh negara-negara Eropa, terutama dalam hal multilateralisme dan komitmen terhadap perubahan iklim. Dua hal yang juga menjadi acuan banyak negara di dunia, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sidang umumnya tahun lalu di New York, AS.

Contohnya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen belum lama ini mengungkapkan keprihatinannya atas pernyataan Trump yang ingin "merebut Greenland".

Frederiksen menekankan pentingnya mempertahankan keseimbangan dalam kebijakan luar negeri Denmark, terutama di kawasan Arktik, yang kini semakin vital mengingat semakin agresifnya Rusia dan meningkatnya minat China untuk mengakses sumber daya di kawasan tersebut.

Denmark, yang memandang Arktik sebagai bagian dari kebijakan luar negeri mereka, merasa harus memperkuat posisi militernya, terutama untuk menjaga hubungan strategis dengan AS.

Langkah ini, meskipun penting, menambah beban keuangan bagi Denmark, yang kini harus menambah anggaran militer untuk menjaga aliansi yang semakin terancam oleh kebijakan Trump.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock lebih menekankan perlunya Eropa saat ini dan ke depan, lebih 'berani' mandiri dalam mengurus keamanannya sendiri.

Trump tampil dengan gaya kepemimpinan yang khas, provokatif, berani, dan penuh kontroversi. Bahkan, sekutu-sekutu Amerika di Eropa pun resah dibuatnya

Sumber ANTARA

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News