DPR Dinilai Berlebihan Soal Angket KPU

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR Zulkifli Hasan menilai sikap DPR sangat berlebihan jika sampai harus menggunakan hak angket, panitia khusus, dan lainnya untuk mempertanyakan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU), terkait larangan mantan narapidana korupsi menjadi calon anggota legislatif (caleg).
"Saya kira pansus, angket, berlebihan itu. Menurut saya mengada-ada," kata Zulkifli di gedung parlemen, Jakarta, Selasa (3/7).
Ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengatakan, KPU sebagai lembaga yang membuat aturan melarang mantan narapidana korupsi menjadi caleg harus dihormati.
"Jadi nanti kalau memang mau mendaftar ditolak KPU, bisa proses ke Bawaslu. Nah kita ikuti saja itu, nanti biar publik menilai," jelasnya.
Menurut Zulkifli, publik akan menilai apakah partai politik pro pemberantasan korupsi atau tidak, manakala nanti mencalonkan seseorang yang pernah menjadi terpidana korupsi yang berat dan lama.
"Apalagi kalau banyak. Saya kira ada bagusnya, waktu dulu saya menolak keras," ungkap Zulkifli.
Dia mengatakan, PKPU itu merupakan salah satu upaya mencegah, karena informasinya banyak mantan narapidana korupsi yang akan didaftarkan sebagai caleg.
"Ya kan nanti DPR menjadi sasaran lagi. Belum maju sudah jadi sasaran lagi, wah DPR sarang penyamun, kan begitu," katanya.
Jadi nanti kalau memang mau mendaftar ditolak KPU, bisa proses ke Bawaslu. Nah kita ikuti saja itu, nanti biar publik menilai.
- Paslon dari Barito Utara Ini Disorot, KPU dan Bawaslu Diminta Bergerak
- Sampaikan Laporan saat Rapur, Komisi II Punya 10 Catatan soal Evaluasi Pimpinan DKPP
- Banyak Gugatan Hasil Pilkada 2024, Legislator PDIP Kritik Kerja KPU
- Bupati Tasikmalaya Terpilih Ade Didiskualifikasi MK, KPU Jabar Beralasan Begini
- Putusan MK Perintahkan PSU di Boven Digoel, KPU Merasa Sudah Sesuai Aturan
- MK Perintahkan 24 Daerah Gelar PSU, Gus Khozin Sentil KPU: Tak Profesional!