DPR: Pemerintah Harus Memperhatikan Industri Tekstil Nasional

Legislator Sumatera Barat ini mengatakan, di balik lonjakan signifikan pertumbuhan produksi tekstil yang beredar di negara kita, pertumbuhan konsumsi tekstil sepanjang Semester I 2019 terus meningkat namun peningkatan ini tidak dinikmati pelaku industri lokal. Situasi tersebut menjadi jawaban melemahnya industri tekstil lokal akibat gempuran produk impor.
Contoh yang dikeluhkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yakni sulitnya untuk menemukan produk tekstil dalam negeri di Pasar Tanah Abang sebagai pusat perbelanjaan tekstil di Ibu Kota. Ini membuktikan bahwa ada sesuatu yang agak mengkahwatirkan dan perlu segera ada perbaikan.
Perbaikan ini adalah berupa revitalisasi mesin sebesar Rp175 triliun yang mencakup sektor hulu dan hilir seperti peremajaan mesin, peningkatan kapasitas produksi hingga memacu ekspor.
"Semoga ada solusi cepat dari pemerintah untuk memberikan solusi polemik guncangnya industri tekstil nasional. Solusi jangka pendek saat ini adalah proteksi barang impor. Jangan terlalu di umbar impor tekstil masuk ke Indonesia. Jangka panjangnya, Industri tekstil perlu upaya peningkatan daya saing dan skala kapasitas produksi yang membesar", pungkas Nevi Zuairina.(fri/jpnn)
Industri tekstil negeri ini sedang kritis. Banyak pabrik tutup atau hengkang dari negara kita. Di sentra-sentra perdagangan tekstil seperti Tanah Abang sulit menemukan merek lokal.
Redaktur & Reporter : Friederich
- Innalillahi, Ketua DPP PDIP Nusyirwan Meninggal Dunia
- 1.824 Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Demo di DPR Hari Ini
- Komisi XIII DPR Bakal Bentuk Panja Pengelolaan Aset Negara Oleh PPKGBK
- Sahroni Usul KPK Buat Aturan Penahanan Gaji-Promosi Jabatan Bagi Pejabat Tak Lapor LHKPN
- PT BRA 3 Kalasan Sukses Ekspor Pakaian Dalam Wanita ke AS, Ini Harapan Bea Cukai
- Praktisi Intelijen Sebut Masyarakat Tidak Perlu Khawatir Soal UU TNI