Drh Slamet: yang Satu Sangat Kaya, yang Lain Menderita

Jika perkebunan kelapa sawit memang menjadi proyek nasional untuk peningkatan ekonomi seharusnya bisa dicari cara yang baik tidak dengan membakar hutan yang memusnahkan habitat satwa dan botani kekayaan bangsa yang menjaga ekosistem dunia.
Industri kelapa sawit yang meningkatkan ekspor Indonesia mempengaruhi konsumsi dalam negeri. Keuntungan dari ekspor lebih menjadi pilihan pengusaha ketimbang harga dalam negeri. Akibatnya harga minyak goreng yang berasal dari sawit didalam negeri merangkak mengikuti harga minyak sawit dunia.
"Terlebih saat ini harga minyak sawit dunia sedang naik, para penguasa lebih memilih mengekspor produknya dari pada menjual di dalam negeri yang harganya lebih rendah".
Jika kondisi pasar seperti ini dibiarkan lalu siapa yang melindungi rakyat? Di mana negara? Di mana pemerintah? Makin jelas keberpihakan pemerintah dalam mengelola negara lebih memilih rakyat hidup susah daripada konglomerat berkurang kekayaannya.(fri/jpnn)
Mengapa bisa terjadi kesenjangan yang sangat jauh? Yang satu menjadi sangat kaya, yang lain menderita.
Redaktur & Reporter : Friederich
- 3 Juta Lulusan SMA/SMK Menganggur, Waka MPR: Berbagai Langkah Harus Segera Diambil
- Menaker: Mudik Nyaman Panasonic Gobel, Bukti Kepedulian Dunia Usaha Kepada Pekerja
- Forwatan dan 3 Asosiasi Berbagi Manfaat Produk Turunan Sawit kepada Yatim Piatu
- Sobat Aksi Ramadan 2025: 40 Relawan Pertamina Hadir Bersihkan Masjid di Jakarta Barat
- Kemnaker Terus Mempercepat Klaim JHT dan JKP bagi Eks Pekerja Sritex Group
- Riau Berusaha Rebut Hak Kelola Kebun Eks Sawit Duta Palma