Dua Pemimpin Indonesia Berbagi Upaya Mereka Menangani COVID-19 Selama Ini

Pelacakan perlu diperbaiki
Pencapaian DKI Jakarta dalam upaya meningkatkan tes diapresiasi oleh epidemiolog FKM UI Pandu Riono.
Namun ia mengingatkan masih perlunya perbaikan di sisi 'tracing' atau pelacakan yang menjadi komponen lain dalam penanganan COVID-19.
"Indikator yang dipakai adalah testing, lacak, dan isolasi. Untuk tiap satu kasus positif, harus dilakukan tracing. Ini angkanya beragam, kalau di bawah lima masih buruk," jelas Pandu.
Pentinganya pelacakan ini juga disampaikan oleh Ronald Bessie dari Kawal COVID-19 yang memaparkan peta rasio lacak isolasi (RLI), di mana Provinsi DKI Jakarta masih tidak terlalu tinggi.
Jika dilihat di peta RLI, misalnya, rata-rata RLI di semua wilayah DKI Jakarta masih di bawah 3, artinya hanya terlacak tiga orang lainnya per satu kasus positif di Jakarta.
Gotong Royong di Tengah Pandemi

Cerita inspiratif dari warga Indonesia yang memilih membantu satu sama lain saat menghadapi pandemi virus corona.
Padahal, sesuai penelitian yang dilakukan Kawal COVID-19, diperlukan minimal 30 orang untuk dilacak, dites, dan diisolasi untuk satu kasus positif yang terdiagnosa.
"Ada 3 faktor pengendalian yang harusnya menjadi metriks, yaitu minimum kapasitas tes di tiap kabupaten atau kota. DKI Jakarta jauh melebihi [kapasitas tes] daerah lain, tapi tracing ratio-nya belum terlalu bagus," ucap Ronald Bessie.
Menurut Anies banyaknya angka positif di ibukota bukan berarti pandemi virus corona tidak terkendali, melainkan dari hasil pengetesan yang tinggi untuk mengetahui kondisi masyarakat
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun