Ekonom Beberkan Risiko Penghapusan Pertalite, Tak Main-Main

jpnn.com, JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra P.G Talattov menilai pengahapusan pertalite tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Pasalnya pemerintah harus melihat dampak terhadap sosial ekonomi masyarakat dan mengantisipasi kelonjakan harga-harga komoditi lainnya.
"Masyarakat hanya bisa membeli BBM jenis pertamax tentunya ada pengeluaran meningkat, dan ini akan memicu harga yang lain," ujar Abra kepada JPNN.com, Senin (27/12).
Apalagi dengan kondisi sekarang, menurut Abra Indonesia masih ditahap pemulihan perekonomian, sehingga masyarakat belum siap menghadapi penyesuaian harga BBM.
Dia menuturkan pertalite menjadi pilihan masyarakat karena kualitasnya yang lebih baik dengan harga yang terjangkau.
Untuk itu, Abra menyarankan perlu kesiapan pemberian subsidi untuk pertamax jika pemerintah berencana menghentikan penjualan premium dan diikuti dengan penghapusan pertalite.
Disisi lain Abra menjelaskan, BBM adalah faktor penting yang mempengaruhi proses bisnis, logistik, dan barang jasa. Artinya ketika pertalite dicabut tentunya harga distribusi barang juga meningkat.
"Harga barang, terutama khususnya sembako juga berpotensi meningkat," ungkapnya.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra P.G Talattov menilai bahwa pengahapusan pertalite tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat.
- Analis Sebut Kans Ekonomi Indonesia Alami Perkembangan Progresif
- Kejagung Dinilai Perlu Telisik Pengadaan Minyak Mentah di Indonesia
- Waspada! Prediksi Kebijakan Donald Trump Bisa Picu Resesi di Indonesia
- Momen Lebaran, Gubernur Harum Beri 3 THR Spesial Untuk Rakyat Kaltim
- Kaya Susah
- Kado Lebaran dari Pertamina: Harga BBM Non-Subsidi Turun Mulai Hari Ini 29 Maret 2025