Elektabilitas Dedi Mulyadi Salip Airlangga Hartarto, Ternyata Ini Sebabnya

Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling yang terdisitribusi secara proporsional di seluruh provinsi.
Toleransi kesalahan (margin of error/MoE) survei ini sekitar kurang lebih 2,9 persen. Adapun tingkat kepercayaannya (level of confidence) sebesar 95 persen.
Jamiluddin menerangkan dirinya sudah sejak lama berkesimpulan Airlangga Hartarto tak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya.
Misalnya, lanjut Jamiluddin, saat menjabat Ketua Umum DPP Partai Golkar (Desember 2019-sekarang), eks Menteri Perindustrian (Juli 2016-Oktober 2019), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Oktober 2019-sekarang), dan eks anggota DPR (2004-Juli 2016).
"Dia juga gencar memasang billboard di kota-kota besar juga dia rajin mengunjungi tokoh-tokoh agama. Nah, bahkan dia juga sudah punya relawan. Apalagi, dia berkuasa pada Satgas Covid-19, yang namanya setiap hari muncul di media. Artinya, kalau memang dia mempunyai nilai jual, pasti elektabilitasnya sudah meroket," jelasnya.
Menurut Jamiluddin, kegagalan optimalisasi potensi Airlangga merupakan imbas dari caranya membangun pencitraan (branding) yang cenderung formal bak pejabat Orde Baru.
Dia menyebut cara ini sudah tak dilirik publik dan tidak sesuai perkembangan zaman.
Jamiluddin menyarankan agar Airlangga menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Pengamat politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto tidak layak diusung pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
- Tegas! Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Bakal Berantas Knalpot Brong
- Rencana Dedi Mulyadi Sulap Gedung Pakuan Jadi Museum, Alasannya
- Libur Lebaran, Pengelola Wisata Jabar Diminta Maksimalkan Persiapan Infrastruktur Hingga Keamanan
- Dedi Mulyadi Singgung soal Pengelolaan Keuangan Daerah saat Salat Id
- Dedi Mulyadi: Mudik Lebaran 2025 Jauh Lebih Baik Dibandingkan Tahun Sebelumnya
- Dedi Mulyadi Beber Alasan tak Pernah Berkantor di Gedung Sate