Fadel Serius Ngurusi Garam
Dirikan Yayasan Pemberdayaan Garam Rakyat
Sabtu, 29 Oktober 2011 – 16:22 WIB
Pemerintah kemudian mengambil jalan pintas mengimpor garam. Petani garam akhirnya tidak mampu lagi memproduksi garam karena garam diimpor dengan harga jauh lebih murah. Garam diimpor seharga Rp300 – Rp500 per kilogram, sementara harga jual di pasar mencapai Rp4.000 per kilogram. Namun tingginya harga jual ini tidak menyejahterahkan petani garam, karena harga beli ke petani garam disamakan dengan harga impor. Akibatnya, petani garam tak mampu lagi berproduksi, dan laju impor pun semakin tinggi.
Masalah ini ditengarai berkaitan dengan kepentingan besar kaum neo liberalisme (neolib) yang lebih mementingkan keuntungan pribadi ketimbang kesejahteraan petani garam. “Akhirnya kan sempat ada ribut-ribut dengan Menteri Perdagangan, dan akhirnya dicapai perjanjian untuk menaikkan iuran. Toh, impor masih tetap berjalan lewat jalan macam macam, harga beli tetap rendah. Nah, Pak Fadel menyusun rencana bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan negara ini dalam konteks garam adalah meningkatkan produksi garam, sekaligus membantu petani garam. Beliau tetap berkomitman dan berpihak pada yang lemah, meskipun sekarang bertada di posisi civil society,” beber Amir.
Fadel, kata Amir, menilai membuat garam itu ternyata tidak sulit, tidak perlu teknologi tinggi. Lantas kenapa harus mengimpor? “Fadel menyadari bahwa masalahnya terletak pada sistem yang menghimpit petani garam dan produksi garam. Oleh sebab itu sistem inilah yang harus dibongkar, itu beliau sadari betul, meskipun harus berhadap-hadapan dengan kaum neolib, dengan pengusaha dan importir garam,” tandasnya.
Amir mengungkapkan, sejak Fadel dicopot, banyak petani garam mengirimkan pesan singkat ke ponsel Fadel, mempertanyakan bagaimana nasib mereka selanjutnya. Bahkan tak sedikit yang datang langsung menemui Fadel untuk mengungkapkan kegelisahan. (sam/jpnn)
JAKARTA -- Setelah tidak lagi menjadi menteri, Fadel Muhammad tetap konsen memberdayakan eko rakyat. Mantan Gubernur Gorontalo itu memutuskan mendirikan
BERITA TERKAIT
- Pensiunan Notaris Diduga Dikriminalisasi dengan Sengketa Perdata yang Dipidanakan
- Kebakaran Melanda Rumah Padat Penduduk di Tanah Abang, Ini Dugaan Penyebabnya
- Tidak Seluruh Honorer Lulus PPPK 2024, Sudah Diantisipasi, 3 Alasannya
- PWNU Jateng Sebut Pilkada Membuktikan Kedewasaan Politik Warga
- 5 Berita Terpopuler: Kenaikan Gaji Guru Honorer Bikin Penasaran, PNS dan PPPK Makin Makmur, Kontroversi Muncul
- Pererat Hubungan Antar-Negara, Perpustakaan Soekarno Garden Bakal Dibangun di Uzbekistan