Fani Oktora, Perempuan Belia yang Hanya Empat Hari Jadi Istri Bupati
Orang Tua Jatuh Sakit, Rumah Ikut Roboh
Senin, 03 Desember 2012 – 07:37 WIB

TERHIBUR: Fani Octora (kiri) tampak terhibur setelah diajak mengunjungi beberapa tempat wisata di Jakarta bersama Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Rani Permata Dicky Chandra (tengah) dan wakil ketua P2TP2A Nitta Widjaya. Foto: RADAR GARUT
Fani mengaku, harapannya untuk hidup bahagia dari pernikahannya dengan orang nomor satu di Garut saat ini malah menjadi neraka bagi seluruh keluarga. Pernikahannya hanya berlangsung empat hari. Keluarganya pun merasa dilecehkan dengan cara bupati menceraikannya.
"Kami menikah 14 Juli dan bupati menjatuhkan talak melalui SMS pada 17 Juli saat berada di Jakarta mengurusi persiapan umrah," kata Fani lirih.
Diperlakukan seperti itu keluarga Fani merasa tidak dihargai dan dilecehkan. Karena itu, mereka meminta bupati datang ke rumah. Saat itu Bupati Aceng berjanji datang menemui keluarga setelah pulang dari umrah. Namun, setelah pulang dari Tanah Suci, bupati tak kunjung datang. Hal ini menyulut kemarahan keluarga besarnya, termasuk pesantren tempat Fani mengaji sejak kecil
Fani mengaku, yang dibutuhkan keluarganya hanyalah sebuah pengakuan. Sebab, hal itu akan menumbuhkan kepercayaan diri agar dia dapat melanjutkan kembali hidupnya. Namun, permintaan itu tidak dihiraukan. Karena itu, amarah keluarga pun semakin besar.
MIMPI Fani Oktora untuk membangun rumah tangga dengan bupati pupus hanya dalam waktu empat hari. Bupati Garut Aceng H.M. Fikri yang menikahinya secara
BERITA TERKAIT
- Semana Santa: Syahdu dan Sakral Prosesi Laut Menghantar Tuan Meninu
- Inilah Rangkaian Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Semarak Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Sang Puspa Dunia Hiburan, Diusir saat Demam Malaria, Senantiasa Dekat Penguasa Istana
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu