Fitri yang Damai dan Sakinah
Oleh: KH Said Aqil Siradj

Berbeda dengan peristiwa di Iraq yang peran mereka kurang, di Syiria keberadaan mereka sangat jelas. Begitu pula, peristiwa di Mesir yang akhirnya beberapa kuburan wali di negara itu dibongkar. Ada setidaknya enam kuburan aulia di Mesir yang dibongkar. Termasuk di Mali yang bahkan ada 30 kuburan ulama besar yang dibongkar. Jadi, sekali lagi, ketika ada demo-demo yang menggaungkan gerakan semacamnya, mereka akan turut nyambi.
Terlepas dari itu semua, ada sesuatu yang memprihatinkan lainnya terkait situasi dan kondisi negara kita. Reformasi di negara kita yang sudah berhasil barulah sebatas reformasi politik. Ada desentralisasi, pemilu presiden langsung, hingga pilkada langsung yang secara umum memang lebih baik daripada sebelum-sebelumnya.
Tapi, yang tidak boleh kita semua lupa bahwa hal-hal tersebut baru sebatas reformasi di tingkat permukaan. Reformasi masih menyentuh kulitnya. Sesuatu yang lebih substansial dari reformasi belum berhasil kita capai hingga saat ini. Yaitu, bagaimana rakyat menjadi lebih sejahtera. Atau, bagaimana bangsa Indonesia bisa lebih aman, adil, dan berkeadilan dalam segala aspeknya. Semuanya, diakui atau tidak, masih jauh dari kata berhasil.
Di balik keberhasilan reformasi di ranah politik, ternyata selama ini kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat. Padahal, ada kaidah fikih yang jelas-jelas menyatakan, tasharruf al- imam 'ala al ra'iyyah manuth bi al mashlahah. Yaitu, kebijakan pemerintah, baik itu dalam bentuk undang-undang maupun peraturan lainnya, harus berdasar kepentingan rakyat.
Selama ini, pemerintah hanya selalu melaporkan bahwa telah ada pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen dan seterusnya. Tapi, di balik laporan tentang pertumbuhan itu, faktanya pemerataan ekonomi masih jauh dirasakan masyarakat di berbagai lapisan. Padahal, Alquran Surat Al Hasyr ayat 7 telah mengingatkan, kay laa yakuuna duulatan bainal aghniya'i minkum. Yaitu, jangan sampai harta itu dinikmati oleh orang itu-itu saja. Kapital atau modal dipegang oleh orang itu-itu saja.
Program pemerintah semacam kredit usaha rakyat (KUR) ternyata belum benar-benar dirasakan masyarakat alias tidak pernah sampai ke mereka yang namanya Solikin, Madrais, atau lainnya.
Intinya, pertumbuhan 6,5 persen yang dibanggakan pemerintah tersebut tetap oke. Tapi, pemerataan juga sangat penting. Sehingga, pada momentum Lebaran tahun ini, perlu semua pihak, terutama pemerintah, memberikan jaminan. Tidak boleh terus-menerus terjadi yang kaya bisa semakin kaya, tapi yang miskin tetap saja miskin. (*)
PADA kesempatan Idul Fitri tahun ini, saya mengimbau kepada seluruh umat Islam, khususnya kepada warga nahdliyin, agar merayakan Idul Fitri dengan
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Cegah Kecelakaan Arus Balik, Menkes: Istirahat 15 Menit Tiap 4 Jam Sudah Cukup
- Pemudik Diimbau Pulang Lebih Awal Hindari Puncak Arus Balik, Manfaatkan Diskon Tol
- Lonjakan Kendaraan di GT Kalikangkung Saat Arus Balik Lebaran Capai 158 Persen
- Arus Balik Mudik Lebaran, Polisi Terapkan Skema One Way Lokal dan Nasional
- Alhamdulilah, Ibu Atun Akhirnya Bisa Mudik ke Kampung Halaman
- Angka Kecelakaan Mudik Turun, Anggota Komisi III Minta Semua Pihak Optimalkan Pelayanan