Fotografer Australia Tinggal di Wilayah Timur Indonesia untuk Memotret Kehidupan Penangkap Paus

Paul tidak jarang melihat kapal yang setengah tenggelam atau rusak. Ia juga suka mendengar kabar tentang warga yang meninggal atau pun terluka ketika berusaha menangkap paus.
Paus yang berhasil ditangkap akan memberi makan 1.000 warga di desa itu, atau dijual.
"Tergantung seberapa besar pausnya, biasanya jasadnya bisa bertahan seminggu atau bahkan sebulan, dan dagingnya bisa dikeringkan atau dibarter," ujar Paul.
"Mereka akan menukarkannya dengan warga dari pulau lain untuk mendapat nasi atau sayur. Ini cara hidup yang sebenarnya."
Desa tersebut memiliki kuota penangkapan 12 ekor paus per tahun yang ditetapkan oleh Komisi Penangkapan Paus Internasional.
Sayangnya tanpa penjelasan yang memadai, paus sudah menjadi semakin langka, seperti juga diamati Paul.
"Waktu saya ke sana lagi tidak lama ini, mereka mengatakan belum melihat paus selama lebih dari setahun," ujarnya.
Belum ada bukti bahwa kegiatan masyarakat tersebut adalah sebab dari terjadinya hal ini.
Wartawan fotografer asal Australia rela hidup tanpa listrik atau air bersih demi mengabadikan kehidupan warga penangkap paus di wilayah timur Indonesia
- Sulitnya Beli Rumah Bagi Anak Muda Jadi Salah Satu Topik di Pemilu Australia
- Rusia Menanggapi Klaim Upayanya Mengakses Pangkalan Militer di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Siap Hadapi Perang, Warga Eropa Diminta Sisihkan Bekal untuk 72 Jam
- Rusia Mengincar Pangkalan Udara di Indonesia, Begini Reaksi Australia
- Dunia Hari Ini: Katy Perry Ikut Misi Luar Angkasa yang Semua Awaknya Perempuan
- Dunia Hari Ini: Demi Bunuh Trump, Remaja di Amerika Habisi Kedua Orang Tuanya