Gempa Turki Sudah Diprediksi 3 Hari Sebelumnya, Diduga karena Geometris Benda Langit?

Twit itu menarik perhatian jutaan netizen setelah gempa benar-benar terjadi. Sampai saat ini cuitan Hoogerbeets tersebut sudah dilihat 52,1 juta kali, dicuitkan ulang lebih dari 50 ribu kali, dikutip oleh 22,6 ribu tweeps, dan disukai 188,2 ribu netizen.
Ada yang menganggap prediksi itu sebenarnya tidak terlalu tepat karena Hoogerbeets menggunakan kata ‘sooner or later’ (cepat atau lambat) yang berarti bukan tanggal dan jam yang pasti. Meski demikian, magnitudo gempa itu dianggap mendekati.
Kontroversinya juga terus menggelinding karena prediksi itu didasarkan pada geometri benda langit.
Hoogerbeets menjelaskan peristiwa seperti itu pernah terjadi pada tahun 115 dan 526.
“Gempa bumi ini selalu didahului oleh geometri planet yang kritis, seperti yang kita alami pada 4-5 Februari,” tuturnya.
Dua hari setelah gempa benar-benar terjadi di Turki dan Suriah, Hoogerbeets kembali membuat twit tentang efek lindu itu pada distribusi tekanan di wilayah tersebut.
“… sebagai hasilnya ialah aktivitas seismik turun ke Palestina. Jelas, kawasan ini telah didudukkan kembali,” twitnya.(JPost/JPNN.com)
Pada 3 Februari 2023, peneliti asal Belanda Frank Hoogerbeets yang menyodorkan prediksinya soal gempa dengan magnitudo 7,5 yang akan melanda Turki dan Suriah.
Redaktur : Antoni
Reporter : Kenny Kurnia Putra
- Gempa M 7,2 Melanda Lepas Pantai Papua Nugini
- Gempa Myanmar, Korban Meninggal Dunia Mencapai 3.301 Orang
- Lebih dari 3.000 Orang Tewas Akibat Gempa Myanmar
- Menlu Sugiono Pastikan tidak Ada WNI Jadi Korban Gempa Myanmar
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Update Gempa Myanmar: Korban Meninggal Dunia Mencapai 2.800 Orang