Guru Besar Unhas Sebut Pelabelan Bisfenol A Lebih Cocok untuk Kemasan Kaleng

Hal itu disebabkan pecahnya lapisan epoksi yang melapisi logam pada kaleng kemasannya, sehingga mengakibatkan terjadinya migrasi BPA ke dalam produknya.
Dia mengatakan bahaya migrasi BPA yang disebabkan kemasan kaleng penyok dan tergores ini lebih besar dibanding jika itu terjadi pada galon air yang berbahan Policarbonat (PC). “Kalau galon kan sudah diuji penyok atau tidak penyok migrasi BPA-nya itu rendah, apalagi bagian luar dan dalam galon itu kan terbuat dari bahan PC," ujarnya.
Jika BPOM mau melakukan pelabelan lolos batas aman BPA, menurutnya, kemasan kaleng ini seharusnya yang lebih diutamakan ketimbang galon air berbahan PC.
Ahmad Zainal memaparkan barang-barang seperti plastik itu bersifat inert atau tidak bereaksi, baik dalam asam maupun basah.
Jadi, plastik itu tidak terlalu masalah dengan situasi asam ataupun basah. Yang bermasalah itu adalah kemasan kaleng karena ada lapisan epoksinya.
"Jika terkelupas bisa membuat produknya beracun,” tegasnya. (esy/jpnn)
Guru besar Unhas (Universitas Hasanuddin) sebut pelabelan Bisfenol A lebih cocok untuk kemasan kaleng
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Mesyia Muhammad
- KKI Temukan 40% Galon Guna Ulang Sudah Berusia di Atas 2 Tahun, Ini Bahayanya
- Riset Terbaru USU Perkuat Deretan Bukti Ilmiah, BPA Tidak Terdeteksi pada AMDK
- Penelitian Terbaru USU: BPA Tak Terdeteksi pada AMDK yang Terpapar Sinar Matahari
- KKI Soroti Ketidakmerataan Distribusi Galon Bebas BPA
- Cuma Indonesia yang Ribut soal Galon Polikarbonat, Eropa & Amerika Santai Saja
- Survei KKI: Konsumen Desak Pelabelan BPA pada Galon Guna Ulang Dipercepat