Ha..ha...Namanya (.), Tanda Baca Itu Lho...Bukan Titik

Kesulitan yang dia alami juga tak sebesar yang dihadapi sang adik, si tanda baca tadi. Kalau adiknya butuh penjelasan empat sampai lima kali tiap kali mendaftar, dia cukup… yaaa… tiga kali lah.
’’Saya bangga dengan nama pemberian orang tua ini,’’ kata N.
N boleh bangga, tapi tidak demikian halnya dengan adiknya yang lahir pada 19 Oktober 2000 itu. Ali mengakui, si bungsu sering memprotes mengapa dirinya dinamai tanda baca. Keluhannya baru berakhir setelah dia ’’berganti’’ nama menjadi Titik.
Berganti harus diberi tanda kutip karena sejatinya yang terjadi adalah kecelakaan. Saat ujian SD, nama si tanda baca adik si satu huruf itu tak terbaca oleh komputer. Simsalabim, jadilah dia terlahir kembali dengan nama ’’Titik’’.
Barulah setelah itu si tanda baca yang kini mondok sembari sekolah tersebut tenang. Begitu pula si bapak. Waktunya kini sepenuhnya bisa dihabiskan untuk menggarap mebel ketimbang eyel-eyelan dengan petugas administrasi pendaftaran. (*/JPG/c5/ttg)
SUATU siang di sebuah sekolah dasar. ’’Jadi, nama anak kedua Pak Ali siapa?’’ tanya petugas tata usaha sekolah itu. Intonasi
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara