Haji
Oleh: Dhimam Abror Djuraid

jpnn.com - Ibadah haji selalu menjadi ritual yang sangat istimewa bagi umat Islam.
Apalagi di Indonesia, haji telah menjadi ritual religi dan sosial yang bukan hanya menunjukkan tingkat kesalehan seseorang, tetapi juga menjadi indikator status sosial seseorang.
Karena itu, gelar haji di depan nama seseorang menjadi sangat penting untuk selalu dicantumkan.
Lupa menyebut gelar haji, atau tidak mencantumkan gelar haji di depan nama seseorang akan menjadi persoalan serius karena menyangkut sensitivitas tinggi yang menyangkut harga diri dan kehormatan sosial.
Mungkin hanya di Indonesia gelar haji menjadi sangat penting. Di beberapa negara seperti Malaysia maupun negara-negara Islam di Afrika Utara pencantuman gelar haji menjadi tradisi sosial.
Namun, di Indonesia implikasi gelar haji bukan hanya memengaruhi status sosial, tetapi juga politik.
Calon kepala daerah, mulai dari kabupaten-kota sampai ke level presiden akan mendapatkan legitimasi religius yang besar kalau punya gelar haji.
Demikian pula dengan calon anggota legislatif, pasti akan mendapat legitimasi yang lebih besar dengan gelar haji.
Kalau benar penundaan ini karena uang haji dipakai untuk biaya pembangunan infrastruktur, maka muncullah sebutan Haji Maskur.
- Bank Aladin Syariah Permudah Pendaftaran Haji Secara Digital
- IPHI Dorong Pembentukan Komite Tetap Haji, Ini Alasannya
- BPKH Limited Luncurkan 60 Unit Bus Baru untuk Layanan Jemaah Haji dan Umrah
- Kemenag: 7 Calon Jemaah Haji Asal Kota Mataram Meninggal Dunia
- RUU Penyelenggaraan Haji dan Umrah Perlu Partisipasi Publik demi Tata Kelola yang Adil
- BPKH Temui Pengurus PBNU, Minta Dukungan Terkait Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji