Harga Minyak Goreng Tak Terbendung, Pedagang Makanan Angkat Tangan, Terpaksa Melakukan Ini

Dengan harga seporsi nasi pecel ayam Rp 22 ribu, terang Mas Karno, pembelinya belum 100 persen pulih seperti sebelum pandemi Covid-19. Namun, jika tidak dinaikkan, maka dia makin sulit menutupi modalnya.
"Ini saya dan istri yang pegang langsung, enggak pakai orang. Kalau pakai orang, enggak terbayangkan bagaimana susahnya," katanya.
Sementara, Mbak Menuk, karyawan Mi Ayam Kota mengungkapkan penurunan pendapatan karena naiknya sejumlah bahan pokok sudah masuk zona merah.
Jika harga jual mi ayam dari Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu tetap dipertahankan, dikhawatirkan malah mereka makin merugi.
"Bos sudah angkat tangan. Katanya mau enggak mau harus menaikkan harga," ucapnya.
Baik Pak Dul, Mas Karno, dan Mbak Menuk, mengungkapkan akan ada penyesuaian harga pada bulan depan.
Ketiganya juga memohon maaf karena keputusan tersebut terpaksa diambil.
"Berat sih keputusan ini karena biasanya setiap kenaikan pelanggan akan mengurangi jajan di luar," ungkap Pak Dul.
Sejumlah pedagang makanan menyerah, mereka angkat tangan karena harga minyak goreng tak terbendung. Mereka bakal menaikkan harga.
- Harga Pangan Seusai Lebaran Terpantau Masih Tinggi
- Ayam Panggang Mbah Dinem di Klaten Rendah Kolesterol, Tanpa Minyak Goreng
- Jelang Lebaran 2025, Harga Pangan Naik, Nyaris di Semua Komoditas
- Warga Rela Mengantre Sejak Subuh demi Sembako Bersubsidi
- Harga Pangan Hari Ini, Cabai Rawit Masih Tinggi
- Harga Pangan Hari Ini, Cabai, Bawang, hingga Minyak Goreng Merangkak Naik