Harga Produk Sayur dan Buah Australia Diprediksi Bakal Naik

Khawatir Australia jadi negara pengimpor

Menurut Darryl Hardman, pemilik Desert Sweet Bananas, perkebunan pisang terbesar di Carnarvon, pihaknya juga merasakan dampak dari kurangnya tenaga kerja.
Gudang pengepakan buah pisang miliknya beroperasi setiap minggu sepanjang tahun. Sebagian besar produk pisangnya berahir di rak-rak supermarket besar.
Darryl mengaku frustrasi terbesar yang dia rasakan adalah kurangnya pekerja.
"Kami telah kehilangan banyak hasil panen karena berusaha mengimbangi situasi. Kami kehilangan sekitar 300 karton pisang setiap minggu," katanya..
"Jelas, tidak ada pekerja backpacker, mereka yang ada sekarang sudah menjalani masa 88 hari. Mereka akan segera pergi. Jadi kami perlu insentif lain untuk mendatangkan pekerja ke sini," jelas Darryl.
Ia mengatakan pekerja musiman asal negara-negara Pasifik bersedia datang ke perkebunan ini, namun menghadapi kendala biaya yang sangat besar.
Darryl menyebutkan biaya karantina untuk mendatangkan satu orang pekerja mencapai $4.000 atau sekitar Rp40 juta.
Merosotnya jumlah tenaga kerja musiman yang selama ini bekerja memetik buah dan sayuran di Australia, telah menimbulkan kerugian telah melebihi Rp500 miliar
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana