Harga Tiket Pesawat Mahal, Malas Pergi Liburan

Mice yang belum masuk serta wisatawan yang enggan bepergian karena tiket mahal, menjadi sandungan bagi pelaku bisnis di sektor perhotelan.
BPS sejauh ini, belum merilis bagaimana kondisi TPK hotel per Januari 2019. Namun, keluhan dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sudah menggema. Bahkan sudah sampai ke gendang telinga Presiden Joko Widodo.
Marcom Manajer Hotel Claro Makassar, Richwan Wahyudi misalnya, mengaku, okupansi sangat jauh dari ekpektasi. Dia memang paham bahwa awal tahun langganan low season.
"Anggaran untuk Mice dari pemerintah juga belum turun. Makanya, kami bidik rendah okupansi awal tahun ini. Cuma 60 persen saja," bebernya, Selasa 12 Februari.
Makanya, lanjut pria yang akrab Yudi itu, membidik wisatawan baik domestik maupun asing untuk mengisi target itu. Hanya saja, harapan tak sesuai kenyataan.
"Januari lalu, kami di bawah 50 persen okupansi. Sangat tidak sesuai. Pastilah wisatawan enggan bepergian, kalau tiket pesawat segini mahalnya. Januari tahun lalu tidak begini. Kami masih bisa capai 60 persen sekalipun itu low season," keluhnya.
Masuk Februari ini, bebernya, okupansi diprediksinya masih akan lemah sekali. Kalau saja, harga tiket pesawat masih tinggi.
"Untuk bertahan dalam kondisi okupansi anjlok, mau tidak mau kami harus kreatif mengemas paket menarik. Momentum juga kami maksimalkan, seperti valentine day," terangnya.
Sekarang ini tiket pesawat mahal, banyak warga malas bepergian atau memanfaatkan cutinya untuk liburan.
- Pelita Air Tambah Ribuan Kursi Selama Mudik Lebaran 2025, Bakal Ada Extra Flight
- Sultan Apresiasi Pemerintah Turunkan Harga Tiket Pesawat
- Menhub Sebut Tiket Pesawat Untuk Lebaran Sudah Turun Harga, Simak Nih!
- Kebijakan Penurunan Harga Tiket Pesawat Saat Mudik, InJourney Airports Beri Diskon 50 %
- Pemerintah Turunkan Harga Tiket Pesawat Lebaran 2025, Pelita Air: Memudahkan Masyarakat
- AHY Umumkan Diskon Tiket Pesawat, Marwan Cik Asan: Sangat Membantu Masyarakat