Hitler dan Ukraina
Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Seluruh kisah invasi Zionis ke Palestina dan proklamasi diri Israel pada 1948 kemudian berputar di sekitar konstruksi ideologis yang akan berputar pada isu penyangkalan terhadap keberadaan rakyat Palestina.
Dalam pandangan para pemimpin utama Zionis penduduk asli benar-benar diabaikan, atau didiskreditkan sebagai orang barbar yang tidak beradab.
Itulah cara pandang khas kaum kolonial terhadap negara jajahannya. Kolonialis Inggris menganggap Australia sebagai ‘’terra nulius’’ wilayah kosong yang boleh dikuasai tanpa mengindahkan keberadaan suku asli Aborigin.
Tanah Amerika dianggap sebagai wilayah kosong, dan penduduk Indian asli boleh saja dimusnahkan dengan berbagai kekejaman yang tidak kalah dari holocaust.
Kolonialisme Palestina terkait dengan gagasan bahwa tugas orang Yahudi adalah merebut wilayah terbelakang dan terpencil untuk membangunnya kembali dengan fondasi mereka, dan memodernkannya.
Hal ini paralel dengan pandangan radikal tentang misi peradaban yang diemban orang Eropa ketika melakukan kolonisasi ke Afrika, Asia, dan bagian dunia yang lain.
Pendudukan Palestina adalah bagian dari ‘kolonialisme rekonstruksi’, yang berarti bahwa organisasi politik dan ekonomi Israel harus mengesampingkan kerja sama apa pun dengan penduduk pribumi, dan hanya menempatkan pribumi pada posisi subordinat dan budak.
Israel secara eksklusif hanya akan terbuka untuk semua orang Yahudi dari seluruh dunia, dan hanya khusus untuk orang Yahudi.
Menlu Rusia menyebutkan Adolf Hitler, penguasa Nazi Jerman, ialah keturunan Yahudi. Pernyataan ini di tengah perang Rusia vs Ukraina yang belum berakhir.
- Volodymyr Zelenskyy Menyesali Pertengkaran dengan Donald Trump
- Kaya Gila
- Donald Trump Pundung, Amerika Setop Bantuan Militer untuk Ukraina
- Berdebat Sengit dengan Trump, Zelenskyy Tinggalkan Gedung Putih Lebih Awal
- Presiden AS dan PM Inggris Bertemu Untuk Akhiri Perang Ukraina
- Polisi Kejar 8 Perampok WN Ukraina di Bali, Kerugian Capai Rp3,4 M