I AM NOT A VIRUS: Perlawanan 4 Seniman Indonesia terhadap Rasisme di Australia

Foto Elina mengenakan karya seninya yang didominasi warna gelap ini diharapkan dapat menarik perhatian orang yang melihat karyanya, khususnya dari kelompok mayoritas.
Terlihat juga rantai yang terbuat dari pipa dan duri dari pengikat kabel menempel pada pakaian tersebut.
Kedua benda yang terbuat dari materi yang mudah ditemukan sehari-hari ini memperkental makna "kekerasan" yang berusaha digaungkan karya ini.
"Saya sengaja pakai warna hitam di fotonya, digelapkan, karena saya ingin orang melihat dan berpikir, 'Ada apa sih?'," katanya.
"Jadi ini salah satu strategi untuk membuka dialog dengan orang, supaya mereka datang, melihat dan mencerna."
Karya yang dibuat selama enam minggu ini juga merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah setempat.
"Lokasi diambilnya foto itu, kelihatan pilar-pilar, yang melambangkan power [kekuasaan]," kata Elina.
"Istilahnya, saya sedikit memprotes juga, mengapa tindakan rasisme ini bisa terjadi? Karena tidak ada sangkut-pautnya dengan kita yang di sini," tambahnya.
Dari masker yang menjadi pakaian hingga makanan yang terbuat dari keramik, empat seniman berdarah Indonesia di Australia menyuarakan pikiran mereka dalam proyek
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Dunia Hari Ini: Kebakaran Hutan di Korea Selatan, 24 Nyawa Melayang