Imigran Suriah di Sydney Inginkan Keluarganya Jadi Pengungsi Ekstra di Australia

Carmen bertemu dengan mantan Perdana Menteri Tony Abbott, menyusul pengumuman yang dibuatnya awal bulan lalu, untuk memukimkan kembali 12.000 pengungsi tambahan asal Suriah dan Irak di Australia.
Ia mengangkat kekhawatirannya kepada Pemerintah Federal bahwa sebagian besar pengungsi Kristen yang berasal dari Suriah dan Irak tidak tinggal di kamp-kamp tetapi di gereja atau di properti yang dimiliki gereja.
"Sebagian besar pengungsi adalah keluarga yang rentan dan penting bahwa mereka harus dijaga," tutur Carmen.
Perempuan ini sudah mengirim email nama-nama lebih 4.000 pengungsi ke kantor Menteri Imigrasi Peter Dutton.
Hidup tanpa suami hampir 4 tahun
Tak hanya pemeluk Kristen yang berbondong-bondong ke Pusat Layanan Migran dengan harapan keluarga mereka akan diproses.
Pengungsi Irak, Enas Neamah, mengatakan, ia datang ke pusat ini agar punya kesempatan untuk bersatu kembali dengan suaminya, yang ia tak temui selama 3,5 tahun.
"Saya datang ke pusat ini karena mereka akan membantu saya membawa suami saya dari Turki ke Australia," ujarnya.
Sebuah pusat layanan migran di Sydney barat dibanjiri ratusan warga Suriah dan Irak yang putus asa untuk bertemu kembali dengan anggota keluarga
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana