Imigrasi Australia Diminta Persulit Pendatang yang Tak Mahir Berbahasa Inggris

Bila hal itu terjadi maka akan ada perubahan kebijakan yang drastis, dan hal yang akan membantu pekerja terampil seperti Deniz Shahin asal Turki yang sekarang berusia 31 tahun.
Deniz pertama kali tiba di Australia 2016 dengan menyandang gelar Master di bidang teknik geometri.
Namun dia tidak bisa langsung kerja di bidangnya dan harus bekerja sebagi tukang bangunan untuk menghidupi dirinya.
"Saya datang dengan uang $4.000 (lebih dari Rp40 juta) dan habis dalam waktu dua bulan," kata Sahin.
"Saya mengatakan saya butuh pekerjaan".
"Namun ijazah saya terlalu tinggi. Diperlukan waktu hampir satu tahun untuk menemukan pekerjaan di profesi saya."
Sebelum itu, Deniz bekerja dengan gaji lebih tinggi menjadi tukang semen, tukang cat, cuci piring di restoran dan pembuat kopi sebelum mendapatkan pekerjaan di bidangnya.
"Saya merasa kesepian," katanya.
Kebijakan imigrasi Australia tidaklah menarik migran yang memberikan kontribusi ekonomi di masa depan, demikian pendapat lembaga pemikir Grattan Institute
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana