Indonesia Alami 185 Bencana di Awal 2021, Pertanda Alam Sudah Rusak

Aida Greenbury, juru kampanye dan penasihat 'zero deforestation' asal Indonesia yang berbasis di Sydney, mengatakan banjir di Indonesia menjadi sering terjadi dalam 30 tahun terakhir, termasuk di pulau Kalimantan, karena lahan dan hutan diubah menjadi tambang atau perkebunan kelapa sawit.
"Salah satu penyebab emisi tinggi yang kita alami saat ini adalah karena deforestation [penebangan hutan]," kata Aida kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.
Data Global Forest Watch menunjukkan Indonesia kehilangan 324.000 hektar hutan primer, setara dengan 187 megaton emisi karbon dioksida pada 2019.
Data tersebut juga menyebutkan total lahan hutan primer yang hilang di Indonesia sebanyak 9,4 juta hektar dalam periode 2001 hingga 2019.
Aida mengatakan salah satu yang meningkatkan risiko banjir adalah konversi lahan gambut menjadi lahan pertambangan dan ladang minyak sawit.

"Lahan gambut memiliki fungsi hidrologi yang sangat penting dalam menyerap kelembapan dan hujan," ujarnya.
"Jika lahan gambut menjadi kering dan kehilangan kemampuannya menyerap air, maka akan menjadi genangan permanen."
Data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mencatat ada 185 bencana di Indonesia hingga hari Kamis kemarin (21/01)
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Update Gempa Myanmar: Korban Meninggal Dunia Mencapai 2.800 Orang
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Ratusan Warga Muslim Tewas akibat Gempa Bumi di Myanmar
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana