Industri Islamofobia
Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Akan tetapi, kelompok itu disebut sebagai ‘’kelompok kriminal bersenjata’’ seolah kegiatan mereka adalah kegiatan kriminal yang sama dengan perampokan atau pembegalan.
Haedar Nashir mengingatkan bahwa arus utama umat beragama di negeri ini pun sungguh moderat, damai, toleran, dan berkemajuan.
Agama dan umat beragama harus dilihat secara komprehensif, tidak parsial dengan nada sarat dakwaan.
Tidak perlu juga dipolitisisasi secara ekstrem, seolah agama dan umat beragama sebagai sumber masalah.
Tampaknya, terdapat kecenderungan yang menguat di sebagian elite, pakar, dan warga bangsa tentang alam pikiran sekuler yang bersenyawa dengan proses demokratisasi dan hak asasi manusia yang liberal sebagaimana pandangan hidup masyarakat Barat yang berbasis pada humanisme-sekuler.
Muncullah ketakutan terhadap Islam yang kemudian dijadikan sebagai industri besar.
Ketakutan dan prasangka Barat terhadap Islam adalah dagangan yang menarik untuk dijual terus-menerus.
Pengeboman menara kembar WTC di New York 11 September 2001 menjadi tonggak awal munculnya ketakutan terhadap Islam yang kemudian menjadi industri, barang dagangan, sebagaimana disinyalir Haedar Nashir.
Ketakutan terhadap Islam, atau islamofobia, menjadi isu yang terus-menerus diperdebatkan, baik di level Indonesia maupun di level internasional.
- Peringati Hari Al Quds Sedunia, Ribuan Massa Padati Gedung Grahadi Surabaya
- Bea Cukai Berikan Fasilitas Kawasan Berikat untuk Produsen Tas Jinjing di Jepara
- ISACA Indonesia Lantik Kepengurusan, Harun Al Rasyid Pertegas Soal Peningkatan IT GRC
- Menpora Dito Apresiasi Kegiatan Majelis Tilawah Al-Quran Antarbangsa ke 15 DMDI
- Hadir di Indonesia, Adecco Siap Bawa Standar Global untuk Ketenagakerjaan
- Presiden Prabowo Minta Deregulasi Genjot Daya Saing dan Investasi Industri Padat Karya