Ini Alasan Turis Tiongkok Belum Tentu akan Datang dalam Jumlah Besar ke Australia
Di beberapa daerah, karantina tersebut kemudian masih ditambah dengan tujuh hari isolasi mandiri di rumah.
Dr Zhang mengatakan persyaratan karantina ini jelas menjadi halangan bagi warga Tiongkok berpikir untuk pergi ke luar negeri.
"Tetapi saya kira ini tidak akan berlangsung lama," katanya.
"Dengan adanya tanda-tanda pandemi mungkin segera berakhir, situasi akan membaik."
Kebijakan pemerintah membuat semuanya jadi susah
Setelah pemerintah Australia menganggap orangtuanya belum divaksinasi, Melody Meng berencana membayar agar orangtuanya bisa ke Australia dan menjalani karantina sebelum kemudian divaksinasi dengan Pfizer.
Tetapi walau orangtuanya siap membayar dan tinggal di karantina hotel yang mahal baik di Australia dan Tiongkok, Melody mengatakan keharusan menjalankan karantina di Tiongkok akan membuat banyak warga enggan bepergian.
"Tiongkok adalah penyumbang terbesar bagi industri wisata Australia dan juga menjadi bagian besar populasi migran Australia, tapi pemerintah yang sekarang membuat hidup kami susah," katanya.
Dr Crystal Zhang mengatakan ketegangan politik antara Canberra dan Beijing saat ini juga bisa mempengaruhi niat warga Tiongkok mengunjungi Australia.
Meski turis asal Tiongkok paling banyak membelanjakan uang mereka di Australia, setelah nantinya perbatasan internasional dibuka mereka belum tentu akan kembali dalam jumlah besar
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi