Ini Jurus Kementan untuk Tingkatkan Produksi Pangan

Kedua, ancaman iklim ekstrem. Ketiga, perselisihan Ukraina dan Rusia yang berdampak pada naiknya harga-harga di pasar global, termasuk pupuk dan sarana produksi lain.
“Selanjutnya, terkait impor produk tanaman pangan, kami lakukan substitusi impor. Impor gandum substitusinya bisa dengan umbi-umbian. Saat ini, singkong untuk ekspor dan produk turunannya angkanya terus meningkat," jelasnya.
"Sudah tiga tahun terakhir sejak 2019, kami tidak mengimpor beras. Produktivitas juga terus meningkat tiap tahun. Jangan sampai ada lahan tidur yang tidak dimanfaatkan," kata Suwandi.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara Bahruddin Siregar menuturkan, Sumatera Utara mampu memenuhi kebutuhan pangan strategis seperti beras dan jagung.
Pihaknya terus mendorong peningkatan produksi komoditas ini sehingga mampu memenuhi kebutuhan penduduk secara berkesinambungan.
“Tantangan ketersediaan komoditas tanaman pangan akan semakin berat. Alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan minat menjadi petani merupakan tantangan yang berat," katanya.
Bahruddin menyebutkan, strategi peningkatan produksi pangan meliputi peningkatan luas tanam dengan optimalisasi lahan dan peningkatan indeks pertanaman serta perbaikan sistem budi daya.
Program yang tak kalah penting untuk diterapkan adalah pengembangan sistem pertanian terintegrasi.
Kementan terus meningkatkan produksi pangan di tengah banyak tantangan yang dihadapi
- Hari Kedua Lebaran, Mentan Tancap Gas Turun Lapangan Sidak 4 Gudang Bulog di Sulsel
- Serapan BULOG Melonjak 2.000 Persen, Hendri Satrio: Dampak Tangan Dingin Mentan Amran
- Raker dengan Pejabat di Kementan, Legislator NasDem Sorot Program Cetak Sawah
- Kementan Gelar Pelepasan Ekspor Gula Semut dari Kulon Progo
- KPK Amankan Dokumen dan Barang Bukti Elektronik di Kantor Hukum Visi Law Office
- KPK Periksa Rasamala Aritonang terkait Kasus TPPU di Kasus Kementan