Jadi Kuli Bangunan dan Buka Warung Kecil-kecilan

Apalagi, pekerjaannya relatif ringan. Hanya berlatih dua kali sehari dengan durasi dua jam setiap latihan dan bermain di hari H pertandingan. Tapi, pada musim kompetisi Divisi Utama 2013 ini, Irwin benar-benar harus prihatin. Dia harus bekerja 10-11 jam setiap hari. Dengan kerja keras seperti itu, dia hanya mendapatkan upah yang tak besar. Setiap bulan sekitar Rp 1,7 juta.
"Kalau mau lebih ya saya harus ngelembur. Itu sering saya ambil untuk menambah penghasilan," ungkap pemain yang memperkuat PSMS Medan sejak musim 2009-2010 tersebut.
Bahkan, untuk menghemat pengeluaran, Irwin rela mengurangi porsi makannya. Saat masih menjadi pemain bola, dia makan tiga kali sehari dengan menu cukup gizi. Tapi, kini dia makan dua kali sehari dengan menu seadanya.
Irwin mengakui, musim kompetisi tahun ini merupakan musim paling sulit. Karena itu, mau tidak mau dia harus kembali aktif menjadi satpam, yang dilakoninya sejak 2011, agar bisa memberi makan istri dan anaknya.
"Saya bisa bekerja di sini karena menjadi anggota tim sepak bola Bank Sumut. Tapi, baru kali ini saya merasakan susahnya jadi pemain bola tidak digaji," ucapnya.
Irwin termasuk korban ketidakprofesionalan manajemen klub Ayam Kinantan, julukan PSMS. Kenyataan pahit harus diterima pemain 33 tahun tersebut setelah tak digaji selama sepuluh bulan. Setiap bulan semestinya dia berhak mendapatkan gaji Rp 10 juta lebih jika melihat kontrak yang telah ditandatanganinya sejak main di PSMS Desember 2012.
"Saya juga bingung, masak klub profesional kalah komitmennya dengan manajemen sekuriti ini. Kami tak pernah telat digaji. Kalau dihitung-hitung, lebih baik jadi sekuriti daripada jadi pemain bola, tapi hanya dapat status dan tidak digaji," cetusnya.
Meski kehidupan ekonominya kini terpuruk, Irwin mengaku beruntung masih memiliki pekerjaan sebagai satpam. Dia mengungkapkan, banyak rekannya yang tak memiliki pekerjaan tetap.
Irwin mencontohkan Alamsyah Nasution yang terpaksa menjual tanah dan mobilnya untuk bertahan hidup. Bahkan, dia juga sempat jadi tukang becak motor untuk sekadar mencari sesuap nasi.
"Saya tahu sendiri, dia (Alamsyah) sempat bergantian dengan temannya narik becak. Kalau temannya sedang istirahat, Alamsyah ganti yang narik. Mungkin dapatnya nggak besar, tapi lumayan untuk beli makanan atau mainan anaknya," paparnya.
Lain lagi nasib Ardhana Siregar yang saat ini banting setir menjadi pedagang baju. Dia harus rela pergi pulang Medan"Tanjung Pinang setiap bulan untuk kulakan baju. Saat dihubungi Jawa Pos, Ardhana mengaku memilih jualan baju di Tanjung Pinang karena dagangannya lumayan laku di sana.
"Lumayan, saya bisa dapat untung sekitar Rp 2 juta tiap bulan. Itu lebih baik daripada saya menunggu janji Indra Sakti (ketua umum PSMS, Red) yang tak pernah ditepati," terangnya.
Meski harus banting tulang, Ardhana bersyukur masih bisa mendapatkan penghasilan lumayan. Selain itu, dia bisa berkumpul dengan anak dan istrinya. "Kalau tetap berlatih di PSMS, sudah ninggal anak-istri, gaji tak pernah dibayar," omelnya.
KARENA berbulan-bulan gaji tak dibayar, para pemain PSMS Medan hidup merana. Ada yang terpaksa beralih profesi sebagai kuli bangunan, jaga warung,
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara