Jalan Keluar Lesunya Produktivitas Pertanian Akar Wangi
Oleh: Virdika Rizky Utama, Peneliti di PARA Syndicate

Dengan menghasilkan minyak sebanyak 75 ton, dari kebutuhan dunia sebanyak 100 ton.
Seiring berkembangnya waktu, permintaan terhadap minyak akar wangi makin besar. Namun, berdasarkan resume data Kementerian Perdagangan RI pada tahun 2019 produksi akar wangi mengalami kemerosotan.
Permintaan dunia sebesar 250 ton per tahunnya hanya dapat dipenuhi 40-60 ton.
Faktor penurunan produksi akar wangi terjadi akibat para petani kurang memperhatikan aspek lingkungan.
Lahan bagian hulu DAS Cimanuk yang digunakan sebagai lahan pertanian akar wangi memiliki topografi bergelombang dan berbukit. Rata-rata memiliki kemiringan lereng mulai dari 15% sampai lebih dari 45% (hlm. 1).
Ketika akar wangi di panen, tanah kehilangan sanggahan sehingga terjadi pengurangan lapisan tanah. Pada akhirnya menjadi ancaman erosi dan mengurangi kesuburannya.
Hal tersebut yang akhirnya menjadi lahan penelitian Sabarman Darmanik. Dalam disertasinya yang bertajuk Konservasi Tanaman Akar Wangi yang kemudian diterbitkan oleh IPB UNIVERSITY dan NCBI (Nation and Character Building Institute), April 2021.
Di Indonesia akar wangi dikenal sebagai salah satu komoditas andalan. Dimulai dari proses ekspor tanaman ini pada tahun 1918.
- Santri Turun ke Desa, Kembangkan Pertanian dan Peternakan
- Jelang Lebaran 2025, Harga Pangan Naik, Nyaris di Semua Komoditas
- Bayer Hadirkan Inovasi Berbasis Sains Untuk Kesehatan & Pertanian Indonesia
- Bulog Jatim Gandeng DPW Tani Merdeka untuk Serap Gabah Petani
- Hortikultura Jadi Tantangan dan Peluang buat Penyuluh Pertanian
- Kementan Gandeng Densus 88, Dorong Kewirausahaan dan Ketenagakerjaan Sektor Pertanian