Jalan Keluar Lesunya Produktivitas Pertanian Akar Wangi
Oleh: Virdika Rizky Utama, Peneliti di PARA Syndicate

Dr. Ir. Sabarman Damanik, M.Si. Foto: Dokumentasi pribadi
Damanik mencoba mengupas pola produksi pertanian akar wangi secara tradisional serta menawarkan terobosan berbentuk pola pertanian konservasi sebagai gantinya.
Menjaga Lingkungan dan Meningkatkan Produktivitas Petani
Kecamatan Samarang merupakan daerah di Kabupaten Garut, yang menjadi lahan terbesar pertanian akar wangi.
Terlihat pada 2002, kawasan ini menyumbang 650 ha tanah guna ditanami akar wangi. Begitupun dengan sebagian masyarakatnya, secara notabene memilih terjun menggeluti usaha tani.
Jenis akar wangi yang banyak ditanam adalah berbunga dan tidak berbunga. Umumnya digunakan jenis kedua, karena lebih banyak menghasilkan minyak.
Penanaman akar wangi sering dilakukan petani secara monokultur dan tumpang sari dengan tanaman lain. Seperti kentang, kubis, cabai, wortel, kacang merah, dan tembakau.
Menurut Damanik, pola pertanian tradisional di atas memberikan dampak serius bagi lingkungan sekitar.
Di Indonesia akar wangi dikenal sebagai salah satu komoditas andalan. Dimulai dari proses ekspor tanaman ini pada tahun 1918.
- Santri Turun ke Desa, Kembangkan Pertanian dan Peternakan
- Jelang Lebaran 2025, Harga Pangan Naik, Nyaris di Semua Komoditas
- Bayer Hadirkan Inovasi Berbasis Sains Untuk Kesehatan & Pertanian Indonesia
- Bulog Jatim Gandeng DPW Tani Merdeka untuk Serap Gabah Petani
- Hortikultura Jadi Tantangan dan Peluang buat Penyuluh Pertanian
- Kementan Gandeng Densus 88, Dorong Kewirausahaan dan Ketenagakerjaan Sektor Pertanian