Jangan Kaget Melihat Bekas Darah di Rumah Duka

Menurut peraturan dari pihak rumah sakit dan pemerintah, masyarakat Toraja jika di perantauan paling lama 4 hari jenazah dapat disemayamkan di rumah duka.
Namun, terkadang budaya Suku Toraja yang harus menunggu kedatangan keluarga dari luar daerah bisa sampai melebihi 4 hari, setelah itu baru akan dilaksanakan prosesi pemakaman.
“Biasanya kami menunggu keluarga dulu baru dapat melakukan pemakaman,” ungkap Ruben Ruba’ (63), salah seorang masyarakat Suku Toraja yang berada di Kota Tarakan.
Selama jenazah disemayamkan di rumah duka, Suku Toraja di perantauan biasanya melakukan kegiatan yang tentunya dilakukan dengan budaya adat Toraja seperti pemotongan kerbau dan babi.
Pemotongan kerbau yang dilakukan pada masyarakat Toraja di perantauan sangat berbeda dengan adat yang dilakukan di tanah Toraja.
Pada kegiatan pemakaman masyarakat Toraja yang berada di perantauan, pemotongan kerbau tidak menjadi suatu keharusan.
Pemotongan kerbau, hanya dilakukan pada keluarga yang dianggap mampu untuk melakukan pesta tersebut.
“Kalau ada (kerbau) dipotong, kalau tidak ada tidak dipaksa juga,” katanya.
Di mana pun Suku Toraja berada, selalu berusaha untuk membawa adatnya ketika tengah dihadapkan dengan duka cita. Perayaan pesta kematian Suku Toraja
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara