Jelang Olimpiade Tokyo 2020, Eng Hian Minta Greysia dan Apriyani Tidak Tegang

Menurutnya, ketegangan bukan saja dirasakan saat berada di lapangan tapi juga sebelum tidur. Didi berharap Greysia dan Apriyani tidak mengalami ketegangan seperti itu.
"Itu yang saya tidak mau terjadi pada mereka, terutama Apri yang baru kali ini turun di Olimpiade," ucap Didi.
Turnamen terakhir yang diikuti Greysia dan Apriyani ialah Yonex Thailand Open Toyota Thailand Open pada Januari lalu.
Saat ini, mereka berada di peringkat keenam dunia.
Sebelumnya, pasangan itu batal bertanding di All England karena dipaksa pulang, sementara Malaysia Open dan Singapore Open juga batal akibat kondisi Covid 19.
"Pasti ada pengaruhnya pembatalan turnamen-turnamen itu, terutama untuk kondisi mentalnya," ujar pelatih berusia 44 tahun itu.
Dia mengaku batalnya beberapa kompetisi itu membuatnya sulit memprediksi kekuatan lawan. Meski begitu, dia memperkirakan persaingan yang sengit akan datang dari Jepang, China, dan Korea.
"Persiapan untuk Greys/Apri dari dua minggu lalu saya masih fokus ke peningkatan strength dan endurance. Fokus stabilisasi daya tahan, konsistensinya untuk bermain dengan durasi yang lebih lama," kata Didi.
Greysia Polii dan Apriyani Rahayu bertekad untuk menyumbang medali Olimpiade Tokyo 2020.
- Paceklik Gelar di Awal 2025, PBSI Perketat Seleksi Pemain Pelatnas Cipayung
- Aturan Promosi & Degradasi Diubah, Deretan Pemain Ini Berpotensi Terdepak dari Pelatnas Cipayung
- BWF World Tour: Rapor Merah Bulu Tangkis Indonesia, 7 Turnamen 1 Trofi
- Tanpa Zheng/Huang, Ganda Campuran China di All England Tetap Mengerikan
- Banyak Bikin Kesalahan, Rehan/Gloria Harus Puas Jadi Runner up Lagi
- Ujian Berat Menanti Apriyani/Fadia di Perempat Final Orleans Masters 2025