Jenny Mie

Oleh: Dahlan Iskan

Jenny Mie
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Menu lainnya: kerupuk sagu warna  putih, tipis, renyah, gurih.

Warna-warna mie itu dibuat sebagai daya tarik tambahan. Juga khasiat imbuhan. Kuning dari kunyit, pink dari buah naga, merah dari buah merah Papua, hijau dari PKB –saya hanya ingat hijau itu PKB.

Jenny tidak berhenti dengan mie. Dia juga membuat makaroni sagu.

Dia lagi meneliti bagaimana makaroni sagu bisa untuk makanan tahan lama. Yakni lewat teknologi pangan yang termodern. Bisa juga untuk jamaah haji atau umrah.

Saya diberi contoh hasil uji coba itu. Tetapi perut saya tidak kuat lagi. Saya pun dengan setengah riya' minta agar contoh itu bisa saya bawa pulang.

Saya yakin cucu-cucu saya bisa mengikuti petunjuk pemakaian yang tertera di kotak itu.

Saya akan makan ramai-ramai sekeluarga. Sekalian menjelaskan apa itu sagu. Agar mereka tahu bahwa di dunia ini tidak hanya ada Black Pink.

Intinya: di dalam boks itu ada tiga sachet. Yakni sachet makaroni, sachet bumbu, dan satu sachet lagi jangan dimakan. Itu sachet yang bisa menggantikan api.

Jenny Widjaya pun kini memproduksi mie sagu untuk spageti. Maka saya seperti menduga Jenny sedang mempersiapkan internasionalisasi sagu.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News