Jepang Punya Waktu 85 Hari Untuk Memastikan Olimpiade Tokyo Berjalan Aman

Dokter Shigeru Omi, penasihat utama masalah virus corona hari Rabu lalu mengatakan "situasi penularan dan tekanan terhadap layanan kesehatan menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan".
"Melihat berbagai faktor yang ada, inilah waktunya untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan berkenaan dengan Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade," katanya di depan sidang parlemen Jepang.
Panitia berharap akan adanya 10 ribu perawat dan dokter selama Olimpiade namun petugas kesehatan mengatakan hal tersebut akan sulit terjadi karena situasi pandemi sekarang ini.
Panitia penyelenggara dilaporkan bekerja sama dengan 10 rumah sakit di Tokyo dan 20 lainnya di Jepang untuk menerima atlet atau yang lainnya yang positif.
Walau Jepang tidak mengalami kasus penularan seburuk di banyak negara lain, namun pemerintah mendapat kritik tajam karena program vaksinasi yang berjalan lambat, yang kebanyakan ditangani oleh pemerintahan lokal.
Jepang baru mulai melakukan vaksinasi terhadap kaum lansia yang jumlahnya besar di sana, namun sejauh ini baru sekitar 1,5 persen dari 126 juta penduduk negeri itu yang mendapat vaksin.
Bahkan masih belum jelas apakah para atlet Jepang sudah akan divaksinasi ketika Olimpiade dimulai, dan yang jelas mungkin sebagian besar warga belum akan mendapatkannya ketika pembukaan Olimpiade dilakukan 23 Juli nanti di Tokyo.
Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari
Situasi COVID-19 di Jepang semakin memburuk, namun pihak penyelenggara tetap yakin bahwa Olimpiade Musim Panas akan tetap dimulai di Tokyo 23 Juli mendatang
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Dunia Hari Ini: Kebakaran Hutan di Korea Selatan, 24 Nyawa Melayang