Jurus Ampuh Hadapi Bahaya yang Satu ini Saat Lebaran, Sangat Sederhana!

Pandangan senada dikemukakan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, dr Muh. Khidri Alwi.
Ia setuju dengan pelarangan mudik yang diterapkan pemerintah sejak 6 Mei hingga 17 Mei mendatang, untuk membatasi pergerakan dan pengumpulan massa di satu waktu dan tempat.
Walau memang pada kenyataannya, masih ada orang yang berusaha menyiasati larangan ini dengan melakukan mudik lebih awal.
"Kami sangat setuju saat pemerintah menyatakan mudik dilarang, yang dilarang bukan masalah mudik tetapi pergerakan dan pengumpulan massa di satu waktu dan tempat," ujar Ulul.
"Mudik sebuah budaya yang sudah mengakar, tetapi kita tidak ingin berimbas seperti India. Jangan sampai muncul muncul klaster mudik," tutur Khidri.
Menurut Khidri, mudik dari sisi agama termasuk sunnah, tetapi bersilaturahmi sembari menjaga orang lain terkena penyakit hukumnya wajib.
Dia mengatakan, silaturahmi saat ini bisa dilakukan tanpa harus tatap muka melainkan memanfaatkan teknologi, misalnya layanan Zoom, Video Call WhatsApp dan semacamnya.
Dalam kesempatan itu, dokter dari Yayasan Gema Sadar Gizi, Zaenal Abidin menambahkan, pandemi COVID-19 bukan wilayah kesehatan perorangan sehingga protokol kesehatan seperti mengenakan masker bisa diabaikan seenaknya.
Jurus ampuh hadapi bahaya yang satu ini saat merayakan Lebaran, ternyata sangat sederhana.
- Libur Lebaran 2025, Bank DKI Terapkan Operasional Layanan Terbatas
- Peringati Hari Raya Idulfitri 1446 H, Sultan: Mari Kita Saling Memaafkan dan Mendukung Dalam Pengabdian
- Waka MPR: Jadikan Momentum Idulfitri untuk Memperkokoh Nilai-Nilai Persatuan Bangsa
- Membangun Pribadi Berintegritas di Hari Raya Idulfitri
- Bakal Berlibur ke Jepang setelah Lebaran, Dicky Difie Tak Bawa Istri, Ini Alasannya
- TASPEN Pastikan Pembayaran THR 2025 Tepat Waktu