Jutaan Pemegang Visa Permanen Memengaruhi Pilihan WN Australia Dalam Pemilu

Menjalankan bisnis wisata outbound, pandemi COVID-19 menjadi masa-masa sulit bagi bisnisnya.
"Kami pada dasarnya tidak bisa mendapatkan penghasilan sama sekali," katanya.
"Kami tidak bisa melayani bahkan tur domestik sekali pun, dan syarat untuk masuk juga sangat susah."
Pierre mengatakan bantuan sosial pemerintah lewat program JobKeeper cukup membantu, tetapi sekarang sudah dihentikan.
"Kalau kita bandingkan dengan Inggris misalnya mereka juga memiliki sistem bantuan seperti Jobkeeper yang diberikan sampai bulan Oktober kemarin sementara di sini berakhir bulan Maret," katanya.
Dalam waktu dekat, Pierre berhak untuk mengajukan diri menjadi warga negara Australia.
"Saya kira pengalaman saya selama beberapa tahun terakhir akan memengaruhi bagaimana saya memilih partai di pemilu."
Dr Sheppard mengatakan dalam beberapa hal, mereka yang bukan warga negara sebenarnya memiliki hubungan lebih dekat dengan politisi dibandingkan yang jadi warga negara.
Ada jutaan pemegang visa permanen yang tinggal di Australia, yang tidak berhak memberikan suara
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Amerika Bakal Persulit Pemohon Visa yang Suka Menghina Israel di Medsos
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun