Kakek 95 Tahun Empat Kali Ganti Bus Demi Ikut Demo Antirasis di Selandia Baru

Tapi ketenangan hidupnya ini, seperti juga ketenangan hidup warga Selandia Baru pada umumnya, tiba-tiba terusik pada 15 Maret lalu ketika teroris asal Australia menembaki jamaah masjid.
Sato merasa sangat sedih mendengar apa yang terjadi di Christchurch. "Saya tak bisa tidur nyenyak sejak itu," katanya kepada Radio New Zealand (RNZ).
"Saya rasa begitu menyedihkan. Kita bisa merasakan penderitaan orang lain," ujarnya.
Menurut dia, setiap orang memang memiliki kesulitan dalam kehidupannya masing-masing.
Karena itu, katanya, kita perlu peduli terhadap yang lain terlepas dari latar belakang etnis dan budayanya.

Sato mengaku mendengar adanya perkabungan untuk menghormati para korban yang digelar di seantero Selandia Baru.
Maka, hal pertama yang dilakukannya yaitu mendatangi sebuah masjid di daerah Pakuranga, kebetulan tak jauh dari rumahnya.
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi