Karambol Madinah

Oleh: Dahlan Iskan

Karambol Madinah
Dahlan Iskan. Foto/ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

Saya sendiri begitu sering membawa tamu makan di resto masakan Korea milik Inul di dekat rumah saya di SCBD Jakarta: Yongdaeri.

Di ujung "Time Square" itu pula ada masakan kesukaan istri saya: ayam bakar dimakan dengan nasi briani, serta roti naan dengan pasangan gule kambing.

Saya harus membawa pulang semua itu. Meski si Galuh sudah tidak galuh lagi, dia masih Banjar. Hatinya pasti sangat ingin ke sana, membeli sendiri semua itu, tetapi lututnya pasti menjerit-jerit.

Mumpung di Madinah sebenarnya saya ingin menulis soal menguatnya Peso Argentina. Luar biasa. Dalam waktu cepat.

Peso yang awalnya lebih letoi dari rupiah bisa begitu perkasa. Dari sampah jadi berkah. Presiden baru luar biasa. Sang presiden begitu hebatnya memajukan ekonomi Argentina.

Saya juga ingin menulis mundurnya jaksa-jaksa federal terkemuka dari partai Republik di New York. Itu gara-gara diintervensi Presiden Donald Trump: untuk menghentikan status tersangka korupsi Wali Kota New York Eric Adams.

Jaksa itu pujaan baru di sana. Wanita. Muda. "I" lima. Umur 22 sudah lulus Harvard University. Umur 25 lulus JD dari Yale University: Danielle Renee Sassoon.

Trump yang memulainya, Trump yang mengakhirinya. Baru lima hari jadi presiden, Trump mengangkat Sasson jadi jaksa federal New York selatan. Tidak sampai 20 hari kemudian Trump memecatnya.

Saya juga ingin menulis mundurnya jaksa-jaksa federal terkemuka dari partai Republik di New York. Itu gara-gara diintervensi Presiden Donald Trump.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News