Kecurigaan soal Sandi Lebih Dominan ketimbang Kejutan

jpnn.com, JAKARTA - Terpilihnya nama Sandiaga Salahuddin Uno sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo Subianto untuk Pilpres 2019 bukan hanya memunculkan kejutan. Sebab, keputusan ketua umum Partai Gerindra itu menggandeng Sandiaga yang notabene kader sendiri sebagai cawapres juga memunculkan beragam dugaan.
Pengamat politik Idil Akbar mengatakan, sebelumnya nama Sandi nyaris tak pernah beredar sebagai kandidat cawapres di kalangan partai politik pendukung Prabowo. Terlebih, ijtimak Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama justru menyodorkan nama Ustaz Abdul Somad dan Habib Salim Segaf al-Jufri sebagai cawapres bagi mantan Danjen Kopassus itu.
"Demikian juga dalam berbagai komunikasi politik partai pengusung Prabowo, tak pernah muncul nama Sandi. Jadi, tidak ada satu bentuk normatif, mengandung kecurigaan. Tapi saya enggak mengatakan itu terkait rumor mahar ya," ujar pengamat politik Idil Akbar kepada JPNN, Senin (20/8).
Pengajar di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu mengatakan, selama tidak ada penjelasan yang masuk akal dari kubu Prabowo terkait alasan memilih Sandi, dugaan-dugaan miring akan terus muncul. Hasilnya, kemungkinan kurang baik bagi citra pasangan yang diusung koalisi Gerindra, PKS, PAN dan Partai Demokrat itu.
“Yang saya heran kenapa parpol pengusung setuju. Ini kan akhirnya menjadi aneh, ketika mereka yang selama ini ngotot mengusung kader tiba-tiba setuju Sandi mendampingi Prabowo," pungkas Idil.(gir/jpnn)
Terpilihnya nama Sandiaga S Uno sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto bukan hanya memunculkan kejutan, tapi juga kecurigaan.
Redaktur & Reporter : Antoni
- Prabowo Terima Ucapan Idulfitri 1446 H dari Pemimpin Negara Sahabat
- Soal Kebijakan Tarif Trump, Prabowo dan Pemimpin ASEAN Atur Strategi
- Tak Ada Alasan Menunda Pengangkatan CPNS & PPPK 2024, BKN Beri Peringatan Tegas
- Didit Hediprasetyo Jadi Kekuatan Tak Terduga Milik Prabowo
- HNW Usulkan ke Prabowo Terbitkan Keppres yang Tetapkan 3 April sebagai Hari NKRI
- Surya Paloh: Kenapa Kami Tidak Ada di Kabinet Rezim Prabowo?