Keluarga Tragedi 65 Ikrar Akhiri Konflik

Keluarga Tragedi 65 Ikrar Akhiri Konflik
Keluarga Tragedi 65 Ikrar Akhiri Konflik
Pertemuan Catherine dengan Ilham Aidit terjadi dalam forum FSAB. Catherine mengaku, dirinya melihat sosok Ilham sebagai anak dari gembong terbesar PKI. "Namun, saat bertemu, hilang semua dendam saya. Karena saya juga tidak ingin mengajarkan dendam pada anak saya," jelasnya.

 

Masa kelam juga diceritakan oleh Ilham Aidit. Pasca pembantaian tujuh perwira TNI yang dikomandoi oleh ayahnya, kehidupan Ilham berubah. Itu bermula saat dirinya bangun pagi, mendapati sebuah tulisan bernada teror di tembok rumahnya. Tulisan itu berisi "gantung Aidit, bubarkan PKI, bantai Soebandrio". "Tulisan itu merubah hidup saya, karena bapak saya menjadi musuh bangsa," kata Ilham dalam testimoninya.

 

Kehidupan pun menjadi tidak mudah bagi Ilham yang ketika itu masih berusia enam tahun. Dirinya selalu menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Pribadi Ilham pun berontak. Sejak SMP, Ilham selalu menantang siapapun yang mengejek ayahnya berkelahi. "Saya sering kalah berkelahi, karena lawannya lebih besar," ujarnya.

 

Di luar kebiasannya berkelahi, Ilham memiliki prestasi bagus di sekolahnya. Seorang pastur dari AS memintanya untuk berhenti berkelahi. Pastur itulah yang menceritakan sejarah terkait ayahnya, beserta sisi lain yang tidak pernah terungkap oleh sejarah. "Tragedi di pulau Buru misalkan, itu harus menjadi bagian sejarah," pintanya.

 

JAKARTA - Tragedi kemanusiaan tahun 1965 merupakan salah satu sejarah kelam Republik Indonesia. Para korban dan pelaku pemberontakan era revolusi

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News