Kemenangan Biden Makin Tebal, Trump Menyampaikan Sebuah Isyarat

Tetapi sejauh ini, Trump tidak berhasil menunjukkan bukti bahwa dia dapat merebut kemenangan di salah satu negara bagian tersebut.
Negara-negara bagian menghadapi batas waktu 8 Desember untuk mengesahkan hasil pemilihan di wilayah mereka dan kemudian menentukan orang-orang yang akan mengisi posisi di Electoral College, kelompok yang secara resmi akan memilih presiden baru pada 14 Desember.
Tim hukum Biden di Georgia pada Jumat mengatakan pihaknya memperkirakan penghitungan ulang suara di negara bagian itu tidak akan mengubah hasil pilpres.
Pengadilan Negara Bagian Michigan pada Jumat menolak permintaan pendukung Trump untuk memblokir sertifikasi suara di Detroit, yang sangat mendukung Biden.
Sementara itu, pengacara tim kampanye Trump membatalkan gugatan di Arizona setelah penghitungan suara akhir membuatnya diperdebatkan.
Pejabat keamanan pemilu federal tidak menemukan bukti bahwa sistem pemungutan suara apa pun menghapus atau kehilangan suara, mengubah suara, "atau dengan cara apa pun menghadapi bahaya," kata dua kelompok keamanan dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (12/11) oleh badan keamanan siber AS.
Trump dijadwalkan untuk pada Jumat sore membuat pernyataan publik pertamanya sejak Biden pada 7 November diproyeksikan sebagai pemenang pemilihan.
Gedung Putih mengatakan dia akan berpidato pada negara tentang upaya pemerintah dan pembuat obat untuk mengembangkan pengobatan yang efektif untuk pandemi virus corona.
Donald Trump menyampaikan sebuah isyarat di saat angka kemenangan Joe Biden di Pilpres AS 2020 makin tebal.
- Soal Kebijakan Tarif Trump, Indonesia Diusulkan Dorong WTO Menyehatkan Perdagangan Global
- Prabowo Kirim Tim Lobi ke AS untuk Negosiasi Tarif Impor Donald Trump
- Menko Airlangga Bertemu PM Anwar Ibrahim, Bahas Strategi Menghadapi Tarif Resiprokal AS
- Trump Terapkan Bea Masuk Tinggi ke Produk RI, Misbakhun Punya Saran untuk Pemerintah & BI
- Ekonom Ungkap Komoditas yang Bakal Terdampak Kebijakan Tarif Trump
- Tornado Menyapu Amerika, 55 Juta Jiwa Terancam