Kementan Adaptasi dan Mitigasi Pertanian Terhadap El Nino

Menurut Ladiyani, dengan memperhatikan spesifikasi Biosaka dan respons tanaman akibat aplikasinya, maka cairan Biosaka dikategorikan sebagai elisitor yang berhubungan dengan imunitas tanaman terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan kemampuan untuk tumbuh dalam ekosistem tertentu.
Ladiyani juga menjelaskan agar tidak terjadi pengurasan hara, maka penggunaan biosaka bersifat sebagai pelengkap, dengan komponen utama pupuk anorganik, organik dan hayati yang ditambahkan sesuai dengan kondisi dan target produksi tanaman untuk menghindari pengurasan hara.
Narasumber lainnya, perwakilan Ditjen Hotrikultura Sur Eva Hayati selaku Koordinator Aneka Sayuran dan Buah mengatakan upaya stabilisasi pasokan harga cabai dan bawang merah dilakukan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
“Jangka pendek dengan distribusi pasokan dari champion daerah surpus ke daerah defisit, jangka menengah melalui pengembangan kawasan dan jangka panjang ketersediaan aneka cabai dan bawang merah,” jelas Nur Eva.
Langkah konkret yang tengah dilakukan untuk penanganan El Nino, di antaranya dengan antisipasi serangan OPT baru dan penanganan OPT komoditas utama dengan penyesuaian musuh alami, pengembangan pengendali OPT dan uji coba pestisida nabati.
"Sedangkan untuk penanaman cabai dilakukan seluas 2.400 ha di lokasi champion dengan optimalisasi luasan cabai dan bawang merah, masing-masing 1.300 Ha," katanya. (rhs/jpnn)
Menghadapi fenomena El Nino, petani didorong tetap meningkatkan produktivitas pertanian.
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Santri Turun ke Desa, Kembangkan Pertanian dan Peternakan
- Jateng Siaga Bencana, Polisi Siapkan Jalur Alternatif Mudik Lebaran 2025
- Bayer Hadirkan Inovasi Berbasis Sains Untuk Kesehatan & Pertanian Indonesia
- BMKG Ungkap Prediksi Cuaca Hari Ini, Cek Wilayah yang Dilanda Hujan
- Bulog Jatim Gandeng DPW Tani Merdeka untuk Serap Gabah Petani
- Cuaca Ekstrem Berlanjut di Jateng hingga 15 Maret, Ramadan Waspada Bencana