Kementan Dorong Petani Muda di Pinggir Bandara Soetta

Pria yang akrab disapa Bagas ini menjelaskan sayuran yang dibudidayakan di antaranya terdapat daun pepaya, singkong, kangkung, bayam, caisim, katuk. Setidaknya ada 30 item sayur lebih di lahan 26 hektare.
Lahan tersebut milik perusahaan kemudian disewa Rp 10 juta per tahun.
"Di sini kami bermitra dengan 40 orang petani yang mengolah lahan 26 hektare. Kami panen setiap harinya untuk menyuplai empat supermarket,” jelas Bagas.
“Untuk melon, harganya Rp 10 ribu per kg. Pemasaran tidak masalah, biaya produksi Rp 150 juta per hektare. Produksi 25 ton per hektare minimal keuntungan Rp 50 juta sampai Rp 100 juta per hektare per musim. Masa tanam selama 70 hari,” tambahnya.
Adapun harga sayuran per ikat cukup kompetitif. Misalnya untuk caisim Rp 2.200 per ikat, kenikir Rp 2.500 per ikta, daun singkong Rp 1.500 per ikta, daun pepaya Rp 2.500 per ikat, daun bayam Rp 2.200, daun katuk Rp 3.000 per ikat.
"Untuk memenuhi pasokan, saya satu tahun libur hanya sehari, pas malam takbiran,” sebut Bagas.
Lebih lanjut Bagas jelaskan, setiap harinya mempekerjakan 15 orang dan kalau bulan puasa mencapai 30 orang.
Prinsipnya yaitu menggerakkan lapisan masyarakat lain, sehingga pegawai dari lingkungan setempat.
Kementan mendorong petani muda mengembangkan hortikultura di pinggir Bandara Soetta.
- Menteri SYL Sampaikan Arah Kebijakan Pertanian Kementan Pada 2021
- Harga Kedelai tak Stabil, Mentan Syahrul Yasin Limpo Langsung Lakukan Ini
- Kementan Ungkap 10 Provinsi Produsen Jagung Terbesar Indonesia
- Realisasi RJIT Ditjen PSP Kementan di Kabupaten Bandung Melebihi Target
- Mentan SYL Tingkatkan Produksi Pertanian di Sulawesi Utara
- Covid-19 Tantangan Bagi Kementan untuk Penyediaan Pangan, Mohon Doanya