Kenali Modus Penipuan Terkait Australia yang Menyasar Warga Indonesia

Menjual barang dan makanan online
Akibat pembatasan pergerakan manusia karena adanya pandemi COVID-19, banyak bisnis yang beralih ke online, tapi bisa juga dimanfaatkan oleh mereka untuk menipu.
Seorang warga Indonesia di Melbourne yang tidak mau disebut namanya menceritakan pengalamannya ketika dia hendak membeli sebuah tas mewah yang dilihatnya di online.
"Tas itu dijual sekitar Rp 5 juta, katanya sudah second hand, dan ada sertifikat keasliannya di online," katanya.
"Namun ketika saya meminta agar sertifikat itu dikirim lewat email, banyaklah alasannya. Terus terakhir bilangnya tunggu kiriman dari Indonesia," katanya lagi.
Karena curiga, ia akhirnya membatalkan transaksi yang hendak dilakukannya, kemudian berusaha mencari informasi lain yang semakin menguatkan pendapatnya bahwa ini adalah usaha penipuan.
"Mereka sepertinya berkelompok. Di online juga mereka saling memberikan komentar yang bagus dan saling mendukung, supaya orang percaya," katanya.
Sementara dalam jual beli makanan secara online, sejumlah pelanggan mengaku pelayanan yang kurang baik.
"Mereka tidak menipu sih. Cuma pelayanannya yang tidak bagus. Packaging-nya [kemasan] menggunakan tas kresek yang sudah bekas pakai dan pengirimannya tidak pernah tepat waktu," ujar sumber ABC Indonesia tersebut.
Pernahkah anda mendapat tawaran untuk datang ke Australia untuk bekerja di bidang pertanian di saat pandemi COVID-19? Namun untuk mengurus hal tersebut anda diminta bayaran sampai Rp 80 juta?Inilah adalah salah satu bentuk penipuan yang semakin marak dita
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Menlu Sugiono Pastikan tidak Ada WNI Jadi Korban Gempa Myanmar
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun