Kenangan Capt Sumarwoto Menjadi Test Pilot dalam First Flight N250
Sedih, Pesawat Kebanggaan Itu Kini Mangkrak

’’Semua harus belajar dari hal-hal kecil, tidak boleh langsung mabur. Tapi, yakinlah, N250 itu pesawat hebat. Sayang, sekarang malah mangkrak,’’ kata Sumarwoto menyesalkan.
Dia menceritakan pengalamannya membawa N250 dalam sejumlah air show di luar negeri. Salah satunya, demo penerbangan di Paris, Prancis. Setelah take-off, pesawat penumpang berkapasitas 50 orang yang diterbangkannya itu langsung bermanuver. Mulai wing over dengan jarak pendek, dilanjutkan dengan over head.
’’Pokoknya, saya tekuk-tekuk itu N250 membentuk seperti Jembatan Semanggi dan ternyata pesawat itu bisa. Semua tepuk tangan kagum dengan performance pesawat itu,’’ bebernya.
Sayangnya, krisis moneter pada 1997–1998 membuat proyek N250 dihentikan. Padahal, saat itu, pesawat yang seluruhnya merupakan karya anak-anak bangsa tersebut mulai dipesan. ’’Kami sangat sedih, prihatin. Tapi, mau bagaimana lagi?’’ katanya.
Yang jelas, kepercayaan yang diperoleh Sumarwoto untuk menerbangkan perdana N250 itu tidak didapat dengan mudah. Berbeda dengan Erwin, Sumarwoto memulai karir terbang dari jalur TNI-AU. Mengikuti jejak orang tuanya yang juga prajurit TNI-AU, bapak tiga anak itu memulai karir militer dari tingkat prajurit tamtama.
Namun, karena berprestasi, dia dikirim untuk mengikuti seleksi masuk pendidikan Akabri (kini Akmil) dan lulus. Setelah menyelesaikan pendidikan di Magelang, Sumarwoto terpilih dalam seleksi untuk menjadi calon penerbang. Dalam pendidikan tersebut, catatan sebagai yang terbaik kembali diraih. Dari 25 orang angkatannya, dia mendapat trofi sebagai lulusan terbaik.
Dari situ, Sumarwoto kemudian mengikuti penjurusan untuk spesialisasi. Dia pun terpilih masuk sebagai penerbang fighter (pesawat tempur). Sebuah spesialisasi yang membutuhkan kemampuan khusus, terutama terkait dengan reaksi cepat tanggap menghadapi berbagai keadaan.
Setelah melewati proses, pada 1991, Sumarwoto yang sudah berstatus komandan flight mendapat tawaran untuk bertugas di IPTN. Lewat Mabes TNI-AU, perusahaan BUMN yang bergerak di dunia penerbangan itu meminta bantuan agar dikirim pilot TNI untuk memegang pesawat kawal uji (chasser). ’’Waktu itu, mabes mencari orang fighter yang paling pas. Ya sudah, saya akhirnya masuk,’’ ungkapnya.
Pesawat N250 bikinan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) punya arti tersendiri bagi Sumarwoto. Sebab, dialah test pilot yang menerbangkan perdana
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara