Keputusan Meta Berhenti Bekerja Sama Dengan Tim Pengecek Fakta Dianggap Berisiko

Selama krisis Rohingya tahun 2017, Facebook diketahui telah memainkan peran penting dalam penyebaran ujaran kebencian, yang berkontribusi terhadap kekerasan terhadap minoritas Muslim.
Meskipun telah berjanji untuk mengatasi kegagalan, Facebook tetap menjadi sarang disinformasi di sana.
Naw Wah Paw, direktur The Red Flag yang berfokus pada penelitian dan pemantauan media sosial, mengatakan militer dan aktor lainnya sudah berpengalaman dalam menghindari deteksi dan memicu kekerasan.
"Kita menghadapi peningkatan misinformasi, propaganda, dan kampanye disinformasi militer," kata Naw Wah Paw.
"Kami telah melacak unggahan yang menggunakan istilah seperti 'bertelur' yang berarti mengebom atau 'berdandan' yang berarti memukul seseorang.
"Tanpa pemeriksa fakta, platform seperti Facebook berisiko menjadi lebih kacau."
Ia mengatakan mitra pemeriksa fakta Meta, yang diharuskan memenuhi standar nonpartisan yang ketat, sangat penting dalam hal memahami bahasa dan konteks setempat.
Keputusan Meta untuk memberhentikan kerja sama dengan pemeriksa fakta independen mengancam akurasi konten di media sosial negara Asia termasuk Indonesia
Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif
- Mark Zuckerberg Mengaku TikTok Sebagai Ancaman Serius Bagi Bisnis Meta
- Sulitnya Beli Rumah Bagi Anak Muda Jadi Salah Satu Topik di Pemilu Australia
- Rusia Menanggapi Klaim Upayanya Mengakses Pangkalan Militer di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Siap Hadapi Perang, Warga Eropa Diminta Sisihkan Bekal untuk 72 Jam
- Rusia Mengincar Pangkalan Udara di Indonesia, Begini Reaksi Australia
- Dunia Hari Ini: Katy Perry Ikut Misi Luar Angkasa yang Semua Awaknya Perempuan