Keseharian Busyro, sang Ketua KPK Baru di Mata Kolega dan Keluarga
Tolak Pakai Pengawalan karena Merasa seperti Ambulans
Sabtu, 27 November 2010 – 07:18 WIB

Ruang Kerja Busyro: Wartawan berkesempatan melihat ruang kerja Pimpinan KPK terpilih Busyro Muqodas di KPK, Jakarta, Jumat(26/11). Busyro terpilih menggantikan Antasari Azhar untuk masa jabatan satu tahun. FOTO: NICK HANOATUBUN/RM
Salah seorang staf menuturkan, Busyro tak pernah rewel setiap pulang kampung. Lelaki 58 tahun itu tidak harus selalu naik pesawat. Dia bisa naik kereta api atau bahkan mobil. Beberapa karyawan sering memergoki pimpinan mereka itu menumpang mobil sampai Jogja. "Tapi, bawa sopir. Nggak mungkin dong disetir sendiri," ujar salah seorang karyawan.
Busyro memang salah seorang pimpinan KY yang paling rajin. Pimpinan lainnya sering absen dengan beragam alasan. Di antaranya, sibuk menjadi "dosen terbang", ada urusan di daerah, dan mengisi beragam seminar hukum. Busyro termasuk pimpinan KY yang hampir tiap hari berada di ruangannya, lantai lima gedung KY. Sekretaris Ketua KY Elza Faiz benar-benar merasakan kesederhanaan Busyro. Menurut dia, kendati menjadi "bos" di KY, Busyro tidak pernah sok-ngebos. Dia tidak rewel, tidak suka marah-marah, apalagi reaktif setiap menghadapi kesalahan bawahannya.
Busyro juga tidak terlalu berlagak elite. Elza menceritakan, suatu ketika dirinya pernah diajak makan oleh pimpinannya itu ke sebuah rumah makan Arab tak jauh dari gedung KY. Maklum, Busyro memang penggemar berat nasi kebuli. Namun, karena restoran terlalu ramai, mereka urung makan makanan khas Timur Tengah itu. Busyro menyerah. Dia lantas mempersilakan Elza memilih menu makan malam.
Agak takut-takut, Elza yang arek Gresik itu menawari Busyro soto Lamongan. "Lho, kenapa enggak? Memangnya saya alergi soto? Soto Lamongan enak juga kok, ayo," ujar Elza menuturkan perkataan Busyro. Masalahnya, kata Elza, makanan berkuah itu tidak dijajakan di restoran. Soto Lamongan digelar di lapak pedagang kaki lima kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Ternyata, Busyro juga tidak mempermasalahkan.
Meski menjadi pejabat negara saat dipercaya memimpin Komisi Yudisial (KY), Busyro Muqoddas dikenal para koleganya sebagai sosok yang sederhana. Apakah
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara