Ketika Jepang Diguncang Gempa, Fitri Langsung Lari

Setelah itu, diukur bahan mana yang paling kuat menahan radiasi nuklir.
’’Semua bahan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tetapi kuat untuk menahan radiasi,’’ jelasnya.
Anak ke-13 di antara 14 bersaudara pasangan M. Sunardin (alm) dan Syarifah (alm) itu menjelaskan, pengembangan risetnya bisa sangat fundamental karena dapat menggantikan perlengkapan penahan radiasi nuklir yang cenderung berat seperti foto rontgen yang membutuhkan logam penahan yang sangat tebal.
’’Sementara itu, jika ada penahan sinar radiasi berbentuk kain konveksi, itu lebih ringan dan praktis,’’ jelasnya.
Fitri menyatakan, tugasnya selesai sampai menemukan hasil riset saja.
Sedangkan untuk menghasilkan prototipe dan produksi masal, hal itu dilakukan tim tersendiri. ’’Di sini mekanisme riset sangat rapi dan prosedural,’’ tuturnya.
Selama lima tahun berstudi di Jepang, Fitri berhasil ikut mematenkan satu produk riset.
Yakni, sistem mengubah sebuah material dari bersifat isolator (tidak menghantarkan listrik) menjadi bersifat konduktor (menghantarkan listrik). Dia ikut tim peneliti produk itu.
Fitri Khoerunnisa, dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, pernah meneliti baju tahan radiasi nuklir berbasis teknologi nano karbon.
- Penyebab Mahasiswa UPI Tewas di Gymnasium, Kapolrestabes Bandung: Kasus ini Prosesnya Ditutup
- Mahasiswi UPI Tewas Terjatuh, Polisi Ungkap Fakta Baru
- Mendiktisaintek Diminta Perhatikan Sistem Pemilihan MWA dan Rektor di UPI
- Jepang Lanjutkan Pembuangan Limbah Nuklir ke Laut, Kekhawatiran Global Muncul
- Gelar Seminar AI di UPI & Unpad, Yandex Ingin Ciptakan Lingkungan Digital Lebih Aman
- Jadi Sentra Implementasi DBON, Kampus UPI Siap Berkontribusi Memajukan Prestasi Olahraga Nasional